Friday, 7 June 2013

"Membentuk Keluarga Islami"

oleh: Ustadz Bendri Jaisy

Bab mengenai pernikahan selalu menarik dan penting untuk dibahas. Bukan hanya karena soal romantisme-nya. Sebab pernikahan bukan hanya tentang bulan madu. Malah, nyatanya, lebih banyak bulan racun daripada bulan madu. Persoalannya, apakah kita punya penawarnya?

Lebih dari itu, pernikahan –menggunakan istilah Ustadz Anis Matta, adalah peristiwa peradaban. Keputusan pernikahan adalah salah satu keputusan paling penting dalam hidup, jauh lebih penting dari keputusan memilih sekolah terbaik, kampus terbaik, tempat kerja terbaik, dan seterusnya. Karena, sekali lagi, pernikahan adalah peristiwa peradaban. Bukan hanya soal mengubah tatanan demografi masyarakat, tetapi pernikahan membuka pintu untuk generasi baru, yang bisa jadi, melalui mereka tugas kekhalifahan manusia terlaksana. 

Sayangnya, ketika membicarakan pernikahan dan persiapannya, biasanya kita akan berfokus pada dua hal: harta dan mental. Padahal ada satu hal yang sangat penting, yang menjadi kunci kesuksesan pernikahan, yaitu ilmu. Bukan hanya ilmu mengenai tata cara mengkhitbah atau wawasan ke-Islaman dasar, tetapi juga, yang ditekankan dalam bahasan sederhana ini, ilmu merekayasa dan memelihara sebuah generasi terbaik. 

Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik sesungguhnya bukan diciptakan di kampus-kampus, sekolah-sekolah, atau institusi lain yang kita sebut “pendidikan”. SDM terbaik lahir dari keluarga. Didikan keluarga adalah pondasi bagi semua pendidikan lain di luar keluarga. Sebuah riset yang dilakukan oleh beberapa departemen di FISIP UI bersama KPK menemukan bahwa para pelaku koruptor (yang telah terbukti bersalah dan ditahan) memiliki masalah sewaktu dibesarkan dalam keluarganya dulu. 

Mengenai SDM terbaik, Rasulullah SAW. pernah bersabda: 
“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih) 

Salah satu ciri SDM terbaik, jika mengacu pada generasi Rasulullah SAW., adalah usia karakter yang jauh lebih matang melampaui usia fisiknya. Dan semua ini dihasilkan dari keluarga yang berkualitas. Sehingga, berbicara visi pernikahan bukanlah sekadar tentang menjadi suami/istri, tetapi juga menjadi ayah/ibu, dan juga tentang mencari ayah/ibu terbaik bagi generasi yang kita lahirkan kelak. Tentang pendidikan anak, kita sering mendengar pepatah Arab, “Ibu adalah madrasah bagi anaknya.” Pepatah ini benar, namun sebenarnya masih memiliki lanjutan, yaitu “.. dan ayah adalah kepala sekolahnya.” Maka, pendidikan anak bukan hanya soal ibu dan anak, tetapi bahkan ayahlah yang paling bertanggung jawab atas visi,perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi pendidikannya. 

Islam sendiri mengangkat tinggi peran ayah dalam pendidikan anak. Dalam Al-Quran, secara keseluruhan ada 17 dialog tentang pengasuhan, yang tersebar diantara 9 surat. Terdapat 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, dan hanya 1 dialog antara guru dan murid. Cukup mengejutkan bukan? Di saat hari ini masyarakat kita menganggap amanah membesarkan anak “dibebankan” kepada ibu saja, sehingga menyebabkan banyak perempuan menunda-nunda pernikahan dengan alasan ingin mengejar cita-cita, karir, dan lain sebagainya sebelum ia harus berhenti untuk mengurusi anak-anaknya. Paradigma ini juga menimbulkan kecemburuan bagi kelompok perempuan tertentu terhadap kaum laki-laki, sehingga mempertanyakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. 

Terlepas dari perdebatan mengenai hal tersebut, poin pentingnya adalah perlunya pelurusan paradigma tanggung jawab mendidik anak. Prinsip pendidikan ayah dan ibu adalah saling mengisi, tidak berarti bergantung pada salah satu saja. Namun peran ayah sangat ditinggikan. Seorang bijak pernah berkata, “Jika ada anak yang durhaka, perhatikan ayahnya.” 

Bahkan, tanggung jawab pendidikan anak pada (calon) ayah sudah ada sebelum anak tersebut tercipta dalam kandungan, yaitu, sebagaimana Umar bin Khatthab pernah berkata, “Hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang shalihah.” sementara dua hak anak lainnya terpenuhi manakala anak tersebut telah lahir, “lalu mengajarkan Al-Qur’an, dan memilihkan nama yang baik.” 

Ketika anak berada dalam kandungan, suami memiliki kewajiban untuk menyenangkan istrinya. Seorang ibu yang hamil pada dasarnya hanya memiliki tiga macam aktivitas, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surah Maryam ketika Maryam mengandung, “ Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu …” (QS. Maryam: 26). 

Ada tradisi Islam yang semakin hilang, yaitu tradisi dimana masyarakat ikut menjaga, memudahkan, membantu, dan membahagiakan muslimah yang sedang mengandung, dan ketika kandungannya lahir disambut dengan suka cita sebagai “bayi ummat ini.” 

Kita sepatutnya curiga, jangan-jangan di rahim seorang muslimah, terlebih di rahim istri kita, ada ulama dan mujaddid (pembaharu) yang Allah titipkan, yang kelak akan membawa ummat muslim berdiri tegak memimpin dunia dan mensejahterakan alam" 

Maka bersiaplah..menjadi istri/suami, ayah/ibu, dan juga mjd bagian dr anggota masyarakat..yg mengambil bagian penting dalam peradaban ini :)

oleh: Ustadz Bendri Jaisyurrahman
di Alumni Gathering PPSDMS Nurul Fikri, Sabtu 25 Mei 2013 
dinotulensikan oleh @yasir dengan beberapa penyesuaian. 

#noted,biar ingat dan semoga bermanfaat untuk yang membaca :)

Sunday, 2 June 2013

engkau dan Tuhanmu

"Kebaikan yang engkau lakukan saat ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang. Tetapi bagaimanapun berbuat baiklah. Bagaimanapun berikanlah yang terbaik dari dirimu. Pada akhirnya kelak engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Ini bukan urusan antara engkau dengan mereka" (by susi untuk nunik).

baru kali ini dapat sms yang hampir bikin air mata ngalir ga berhenti-henti :'(. sms dari seorang Ibu di Bulungan, Kalimantan Utara.. beliau salah satu pegawai Pemda disana, satu kelas dengan saya di S2 ini karena mndapat tugas belajar. Putra nya 5 yang paling besar lulus SMA,yang paling kecil 2 tahun. Pilihan yang luar biasa bagi saya saat beliau menyanggupi tugas belajar di pulau yang berbeda.

Suatu hari, saya dan beberapa teman disibukkan dengan ritual tesis, kemudian saya mengalami suatu kejadian yang membuat hati saya tidak nayaman. akhirnya, Selepas sholat zuhur berjamaah dengan beliau di mushola kampus, saya hanya mengucapkan 1 kalimat "bu, ternyata hidup itu cukup berat ya dan ga selalu nyaman, pasti Ibu uda melewati banyak hal yang lebih berat ya bu, dan Ibu bisa sampai sekarang ini karena Ibu kuat dan sabar melewatinya". Awalnya saya berharap untuk ditanya kenapa, tapi ternyata Ibu itu langsung menangis sejadi-jadinya. Ia malah bercerita tentang permasalahan anak-anak nya, keluarga besar nya, rumah tangga nya, pekerjaannya yang sungguh sangat amat berat. Saya hanya bisa diam mendngarkan dan bersimpati. Ada kalimat yang saya ingat sampai sekarang.."ya sudahlah nik, percayalah tak ada cinta yang abadi di dunia ini kecuali cinta dari Allah..". sering juga beliau mengatakan, "ya bagaimana lagi nik, anak saya tiara yang SD sering bilang ke saya, sabar ya mamah, daun yang berguguran jatuh saja atas izin Allah" Speechless..

Dan luar biasanya, dalam keadaan penuh tekanan, beliau bisa menyelesaikan tesis nya. dan Akhirnya kemarin beliau mensms saya, mengingatkan agar saya pun menyelesaikan tesis saya.. huwaaa..terharu.

Terima kasih ya Ibu, banyak hal lain yang masih saya ingat dan akan terus saya ingat. pelajaran berharga untuk saya yang masih tidak mengerti tentang apa itu hidup. Dan ada 1 kalimat lagi yang sering ibu katakan dan  tidak akan pernah saya lupakan bu.. "iyalah, sekarang ini sumber kekuatan ku hanya Allah, nik..semoga aku kuat menyelesaikan ujian ini dan setelah ujian ini selesai aku akan menyelesaikan ujian yang lain"

Dunia itu hanya tempat ujian-ujian..dan sejatinya jawaban dari semua ujian-ujian itu adalah saat kita bisa mengambil hikmah yang akan membuat keimanan kita semakin kuat. Keyakinan hati pada kebesaran sang Illahi Rabbi. Semoga kita bisa lulus ujian-ujian di dunia dan mendapat nilai yang baik biar diperkenankan masuk surga bertemu Allah, bertemu Rasulluloh, dan semoga bisa berkumpul dengan keluarga dan semua orang-orang yang baik.. 

Oke, kejakan tesis, selesaikan, ujian, dan segera lulus dapat nilai yang terbaik <~ termasuk ujian di dunia. :)


Friday, 31 May 2013

plan is plan

yang saya yakini, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan jika kita memiliki rencana yang kita yakini juga baik, kenapa tidak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh? Semoga saja apa yang kita rencanakan sama seperti apa yang Allah rencanakan. Karena kita tidak akan pernah tahu akan hal itu. Yang kita hanya perlu tahu adalah bagaimana mengikhtiarkan itu dengan sebaik-baiknya dan dengan doa-doa terbaik, kemudian bertawakkal..
Ya, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya, dan jangan pernah sampai berputus asa dari rahmat Allah Sang Maha segala Maha,walaupun hanya sedetik. Insyaallah.

"Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu)." (HR.Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud)


~semoga yang terbaik untuk mu, untuk ku, untuk kita, dan untuk semua~

Wednesday, 29 May 2013

manis :)


hidup manis itu adalah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, terus lanjut menyelesaikan 'sesuatu' didepan laptop dan ternyata haus, eh ada anak manis tiba2 muncul, dan pas dimintai tolong ambil air minum, langsung beranjak dan memberikan segelas air minum dengan senyum manis nya
terharu :')

Menikmati manisnya proses, seringnya hanya fokus pada hasil akhir dan menganggap bahwa keberhasilan adalah saat suatu akhir yang diharapkan berhasil sesuai yang direncanakan.. Padahal, ternyata lebih banyak hal manis yang didapatkan saat menyadari bahwa proses itu harus dinikmati entah membahagiakan ataupun tidak.

Seperti membesarkan seorang anak, (bisa jadi) kadang orang tua hanya fokus bagaimana anak-anak nya sukses saat dewasa, mandiri, dan berhasil dengan cita-citanya. Tapi lupa menikmati saat anak-anak tumbuh karena sejatinya mereka lebih sering melakukan hal-hal yang manis yang menyejukkan namun tertutupi pada kenakalan yang sebenarnya mereka tidak nakal, tapi lupa diberitahu oleh orang tuanya atau orang tuanya yang kurang sabar memberitahukan anaknya atau mungkin tertutupi oleh sedikitnya waktu orang tua membersamai anak-anaknya sehingga tidak pernah tahu bahwa sebenarnya anak-anaknya itu manis.

#sebuah proses, apapun proses itu pahamilah bahwa proses itu manis walaupun tidak selalu. tapi semoga berakhir manis.

Saturday, 18 May 2013

Kenapa?

Perjalanan tadi sore melintasi desa membuat saya tertegun dengan kata 'kenapa'. Sepanjang perjalanan di motor menuju rumah budhe ke desa sebrang, Hani, keponakan saya (12 th) berulang kali bertanya menggunakan kata 'kenapa'. 
Mba, kenapa anak laki-laki main layangan? // ya, karena cuacanya sedang bagus han..anak perempuan juga boleh main layangan..
kenapa banyak anak-anak yang main layangan, di sini, di sana? // Ya, karena kebetulan cuacanya sedang sama-sama bagus..kalo musim hujan pasti ga ada yang main layangan..
Kenapa harus main layangan? // ya, sebenernya ga harus main layangan aja han, tapi bisa main yang lain juga.. tapi karena cuacanya cerah dan banyak angin jadi seru nya main layangan..
Kenapa suka main layangan? // *mikirr..hmm ya karena mereka suka main layangan. (dan sebenernya bingung mau jawab apa lagi..haha)

tak lama, pertanyaan berubah isu karena melihat baliho pemilukada jateng.
Mba, HP-Don itu apa? // o..itu calon gubernur jawa tengah dan wakilnya. nomor urutnya 1, diusung dari PKS, PKB, PPP, Hanura, gerindra, sama PKNU (hafal, soalnya sambil ngelirik spanduk2 kecil sepanjang jalan..hehe).
Kenapa banyak banget partainya?// karena banyak partai yang mendukung..
Kenapa mendukung? // *mikir berat..hmm ya karena mungkin calon ny baik ya jadi banyak yang dukung
Terus nomor 2 itu siapa? // nomor 2 itu pak bibit, gubernur yg sekarang mencalonkan lagi..
Di dukung partai apa? // lupa, kayanya kalo ga Golkar atau Demokrat
Kenapa cuma 2 yang dukung? // hmm...hffttt...ya karena cuma didukung partai itu aja..
terus yang ke 3?// pak ganjar, dari PDIP..
Kenapa banyak banget ya di jalan2 itu spanduknya? // *hmm..hmm..karena biar masyarakatnya bisa tau han.. (pengen jelasin tentang audit dana kampanye tapi kayanya ga memungkinkan..hehe)

dan alhamdullilah sampai juga di lokasi, jadi pertanyaan selesai secara otomatis :D

Hani, usia 12 tahun, masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.. tidak lagi bisa jika hanya diberitahukan atau disuruh tanpa ada penjelasan. bahkan terkadang harus dengan feed back sampai dia paham kenapa harus melakukan suatu hal. Dan terkadang ia sudah mulai punya pendapatnya sendiri, seperti tadi misalnya..

Han, banyak bendera warna merah ya di jalan-jalan..aku mau pasang bendera warna putih ah di depan rumah..// menurut ku kayanya jangan deh mba..
memang kenapa? // ya jangan aja..ga enak aja kan sama orang lain
masa sih, tapi kenapa harus ga enak? kan gpp namanya juga berkompetisi tidak harus saling menjatuhkan..// iya sih..tapi menurutku jangan aja..ga enak aja..ga enak kenapa yaa..iihhh masa mba ga tau sih???
hmm..gitu ya han, tapi kalo aku mau pasang gimana? gpp juga kok kalo sebelah rumah masang bendera warna biru, sebelahnya lagi warna merah..atau mungkin sebelah yang lain jadi ikut pasang bendera putih kan..// hmm iya sih..terserah mb aja deh..pasang juga gapapa..

Pertanyaan-pertanyaan yang sering membuat saya tertegun. bukan hanya karena saya sudah mulai 'kewalahan' menjawab pertanyaan-pertanyaannya.. tapi, karena saya berfikir tentang suatu hal. Di sisa perjalanan, dalam hati saya, saya mengatakan pada hani suatu hal, bahwa hidup sangat dinamis. terlalu dinamis. sampai suatu masa, saat ia dewasa, ia tak lagi bisa menemukan jawaban-jawaban secara langsung dari pertanyaan2nya tentang 'kenapa'. Ya, karena ia mungkin baru bisa mendapat jawaban itu setelah beberapa bulan menunggu jawaban atau mungkin ia tidak akan pernah mendapat jawaban nya sama sekali sampai ia sendiri yang berusaha mencari jawabannya.. Dan semoga saat itu terjadi keimanan nya sudah terpatri kuat di hatinya sehingga jawaban-jawaban tentang 'kenapa' bisa ia jawab sendiri dengan kebijaksanaan dari dirinya yang luar biasa karena kedekatannya pada sang Illahi rabbi. Sehingga, hanya untaian-untaian hikmah yang ia dapat sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang 'kenapa'. dan semoga itulah yang akan semakin meningkatkan keimanan pada Tuhan-nya dan kecintaanya pada Islam. 

*sedang menikmati senja dengan secangkir coklat hangat diantara lagu2 pop yang nadanya berubah jadi dangdut dari sound system tetangga sebelah yang akan sibuk dengan hajat besarnya esok hari.. Eh, kenapa laguny tiba2 berhenti dan jadi ada sambutan2 bapak2..hmm..ibu saya bilang itu acara midodareni *kalo ga salah ketik :) karena saya baru tau ada serangkaian acara yang sangat banyak dan cukup kompleks untuk menikah, semenjak saya tinggal di kota ini.. kenapa seribet itu ya? kenapa?? hmm..iya, kenapa ya?? hehe.. 

Dinamisasi hidup.
cuma ada di dunia :D
termasuk tesis yang harus tetep dinamis move on - nya diantara keroncong, dangdut, campur sari, dan terkadang sambutan2 bapak2 yang saya tidak mengerti satu kata pun. haha. eh,tapi lagu pop yang berubah nadanya jadi dangdut itu liriknya seperti mengungkapkan realita kehidupan yaa.. hanya mencintai seni # pengalihan isu ding # melarikan diri dari kenyataan mungkin yaaa # :D