Thursday, 7 May 2015

jus pepaya istimewa :)



Belum lama saya bincang ringan dengan ibu saya gara2 melihat anak2 kecil sedang bermain.

"Kesian ya anak2 skrg, ga punya lapangan bermain, mana sukanya ngambil rambutan atau mangga sampe manjat2 tembok orang ga bilang2 yang punya. Orang tua nya ya juga pada males nanem. Singkong tinggal ditancep aja numbuh. Pepaya tinggal disebar bijinya jg tumbuh. Coba deh lihat, anak2 nya pada kurang gizi ga pernah makan buah.kalau beli memang mahal, kalau punya pohonnya sendiri kan gatis "

"Iya bu, di aceh pemerintahnya mewajibkan warga nya nanem 1rumah 1 pohon pepaya"

"Lah iya, harusnya pemerintah sini inisiatif dong, disepanjang jalan itu kan tanah kas desa. Ditanemin pohon buah apa kek, rambutan, mangga, srikaya, belimbing, jambu, jadi kan kalau anak2 mau, tinggal ambil. Biar dpt gizi ga harus nyolong2 tetangga."

"Siap.merdeka" :D

####

Hehe,ibu saya dulu aktivis aisyiah, jadi maklum aja, pemikiran dan gaya bicara nya suka berapi2 :)

Banyak pemikiran dan aksi ibu saya yang positif, suka saya amati, internalisasi dan ternyata betul menginspirasi. Sampai saya buat tulisan diblog tahun 2011 ttg gerakan 1 rumah 1pohon pepaya.

Dan alhamdullilah didkt jemuran rumah, ibu saya menabur biji pepaya yg sekarang sdh berbuah banyak tidak besar2 dan matang pohon, urut dari bawah hampir setiap 2hari sekali. Faza suka banget pepaya utk mpasi nya, biasanya 1buah kecil dimakan berdua sama ibu saya. Kalau saya lbh suka di jus, dan ditambah perasan jeruk nipis. Seger, manis, asem dikit...

Terima kasih ibu, terima kasih Allah, atas segala nikmat..

mie (ayam) jamur praktis

Mie jamur bukan mie ayam :D



Rasanya 11-12 sama mie ayam. Tapii lebih murah, 10rb bs jadi 4 mangkok hehehe

Memadukan makanan kesukaan suami, mie ayam dan jamur. Rencananya mie nya giling sendiri biar agak lbh sehat, tapiii cetakan pasta entah ngumpet dimana, jadi pakai mie siap masak. Ttp ada benzoat di mie, kecap, dan saos. Hehe

Mienya beli diwarung tinggal rebus
Sawi tinggal rebus, nyuci nya diair mengalir ya biar pestisida nya larut
Jamurnya,
Haluskan, bw merah,putih,jahe dikit, cabe rawit klo suka, tumis tambhain merica bubuk, gula, garem, daun salam, daun jeruk, lengkuas, masukin irisan daun bawang, jamur tiram yg ud dipotong2, tambahin air, kecap dan tunggu mateng

Tinggal tata ala tukang mie ayam deh

mie wortel jamur rasa mie ayam :D


Nah,ini dia mie wortel jamur rasa mie ayam hehehe
Karena cetakan pasta sy sdh ketemu akhirnya saya bisa bikin mie sendiri. Cukup terigu,tapioka, telur, sari wortel, dan sdkt garam. Jamurnya, ya cuma bumbu dasar dan kecap.
Anak saya, faza usia 8 bulan, minta mie nya utk mainan, ya saya kasih dengan tenang tanpa perlu khawatir jika dimakan... :D

Resep mienya
Sari wortel: Wortel 2 diblender sama 150ml air, peras, ambil airnya campur telur 1 aduk. (2500)
Terigu 250gr, tapioka 4sdm, gram 1sdt, aduk rata, masukan sari wortel dikit2 dan uleni sampai tdk lengket ditangan. (3000)
Tinggal giling,cetak, taburin tapioka biar ga lengket. Terus rebus campur sawi. (1000)
Bisa utk 6 porsi mangkok besar..
Kalo kebanyakan, taruh plastik, masukin freezer bisa tahan 1minggu. Atau td saya goreng rasanya kaya mie2 kemasan siap makan yg ada bumbunya dan biasa dibeli anak2. Hhe


Jamurnya,
Cuma bw merah putih jahe lengkuas ditumis, trus tambahin gulgar, lada bubuk, pala bubuk, daun bawang, jamur tiram, air, kecap (6000)

Tata deh ala mie ayam.. tambahin garam krn kuahnya dr air panas dispenser heheheh

Friday, 3 April 2015

Kisah 3 Pemuda yang Terjebak Dalam Goa



Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu 'anhuma, dia berkata: “aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:’ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus berminap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata:’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku).

Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .

Nabi bersabda lagi: ‘ yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya ; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata:’tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .

Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda lagi: ‘ kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab:’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata :’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)

Pelajaran-Pelajaran Yang Dapat Dipetik  
* Berbakti kepada kedua orangtua
Hadits diatas juga menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua (birr al-Wâlidain), patuh, melakukan kewajiban terhadap hak-hak keduanya dan mengabdikan diri serta menanggung segala kesulitan dan derita demi keduanya. Diantaranya hak-hak keduanya adalah:
Melakukan perintah keduanya selama bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, melayani, membantu dalam bentuk fisik dan materil, berbicara dengan ucapan yang lembut, tidak durhaka serta selalu berdoa untuk keduanya.
Memperbanyak doa untuk keduanya, bersedekah jariyah atas nama keduanya, melaksanakan wasiat, menyambung rahim serta memuliakan rekan-rekan keduanya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, [23]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: " Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".[24] (Q,.s. 17/al-Isra’: 23-24)

* Berbakti kepada kedua orangtua merupakan sebab terhindarnya dari kesulitan-kesulitan di dunia dan keselamatan dari ‘azab akhirat

Dalam kisah diatas, salah seorang dari mereka, bertawassul kepada Allah melalui perbuatannya yang dianggap paling afdlal dan ikhlas dilakukannya, yaitu berbakti kepada kedua orangtuanya sehingga hal menjadi sebab merenggang dan terbukanya rongga gua dari batu besar yang menutupnya.
Abu Darda’ radhiallaahu 'anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “orangtua merupakan pintu pertengahan di surga; jika kamu menginginkannya, maka jagalah ia atau bila (tidak) maka sia-siakanlah “.
Sebagaimana, berbakti kepada kedua orangtua juga merupakan sebab masuk surga, sementara durhaka kepada keduanya merupakan sebab mendapatkan ‘azab di dunia dan akhirat.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:”Ada tiga orang yang tidak dapat masuk surga: ‘seorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya; orang yang menyetujui terjadinya zina terhadap keluarganya serta wanita yang kelelakian (yang menyerupai laki-laki)”. * Mengambil pelajaran dan wejangan dari kisah-kisah umat terdahulu
Seorang Muslim patut mempelajari dan merenunginya sehingga dapat bermanfa’at bagi kehidupannya. Bukankah Allah Ta’ala telah mengisahkan banyak sekali kisah-kisah umat-umat terdahulu, terutama para utusan Allah, kepada kita?. Semua itu, tentunya agar generasi selanjutnya dapat memetik pelajaran dari mereka. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q,.s.12/Yûsuf: 111)

Thursday, 14 August 2014

“Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..”



“Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..” *

Syndrome mahasiswa akhir semester biasanya tidak jauh dari tiga hal; lulus, bekerja, dan menikah. Dan itu tidak terkecuali saya. Dan syndrome itu semakin menjadi-jadi saat satu per satu teman saya lulus, bekerja, dan menikah, sementara saya masih di kampus. Dan terus di kampus sampai akhirnya saya melanjukan jenjang S2 di fakultas dan universitas yang sama. Tidak jarang, banyak teman, saudara, dan bahkan keluarga bertanya “kapan saya menikah?”. Dan dengan wajah innocent, saya hanya bisa menjawab, “ya, insyaallah segera, mohon doanya ya”. Padahal, dalam waktu yang bersamaan hati saya menjawab, “mau nya sekarang juga nikah, tapi tidak tahu sama siapa, kapan, bla bla bla….”
Dua jawaban yang kontradiktif dimana lisan dan hati bertentangan satu sama lain. Padahal, Iman itu diimani dalam hati, diungkapkan dalam lisan, dan diamalkan dalam perbuatan. Dan ilmu berbanding lurus dengan iman, itu artinya iman saya masih goyah karena ilmu saya masih kurang. Bahkan terkadang saya bertanya penuh dengan keraguan mengapa Allah Ta’alla tidak segera mempertemukan saya dengan jodoh saya, bahkan menyalahkan beberapa orang mengapa tidak membantu saya mencarikan jodoh untuk saya.
Tahun-tahun yang cukup berat untuk saya lewati diantara deadline Tesis, pekerjaan sebagai asisten peneliti yang penuh tekanan, tuntutan untuk menikah, dan kabar-kabar pernikahan dan kelahiran dari teman-teman. Sementara saya belum tahu, kapan saya akan menikah dan tidak tahu dengan siapa saya akan menikah. Di saat-saat itu, ternyata Allah SWT malah memberikan saya tambahan pekerjaan untuk mengelola Sekolah Pranikah (SPN) yang hampir setiap sesinya saya menjadi moderator. Ya, alhamdullilah saya aktif di LSM Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) BENIH di Solo. Karena itu, setiap kali saya memoderatori SPN, setiap itulah saya semakin dilema dan semakin gelisah. Namun setiap itulah saya semakin berfikir dan semakin terbuka memandang tentang pernikahan, persiapannya, dan tantangannya setelah menikah.
Ilmu itu menenangkan, ilmu yang memberikan panduan pada kita mana yang benar mana yang salah, mana yang harus kita lakukan mana yang tidak boleh dilakukan, Ilmu yang fitrah untuk semua makhluk, ilmu yang mendekatkan pada keadilan menempatkan semuanya sesuai pada tempatnya, Ilmu yang mendekatkan hamba dengan Tuhan-nya, Ilmu yang menambah keimanan, Ilmu yang memberikan kemanfaatan, Ilmu yang memberikan kekuatan untuk bersabar, Ilmu yang memudahkan menangkap sebuah hikmah dari setiap kejadian,  Ilmu yang menambah kebijaksanaan sebuah kepribadian.
Satu hal yang membuat saya berkontemplasi hebat adalah saat salah satu pembicara SPN memaparkan salah satu ayat dalam al-qur’an, ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah (tentram) kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)
Barulah saya memahami bahwa Allah akan memberikan kado pernikahan berupa sakinah ma waddah wa rohmah kepada kedua mempelai yang sudah melakukan ijab qabul. Berarti rasa cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya baru akan ada setelah pernikahan itu terlaksana. Dan itu akan terjadi ketika proses sebelum menikah, saat menikah (walimat ursy), dan setelah menikah dilakukan dengan cara yang Allah ridhoi. Dan yang lebih harus dipastikan adalah bagaimana meluruskan niat bahwa pernikahan itu adalah ibadah, hanya kepada Allah SWT..Insyaallah.
Dari situ saya meyakini bahwa pernikahan adalah sebuah mitsaqon ghalizan, sebuah perjanjian yang berat. Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah, termasuk didalamnya dalam pemilihan calon dan proses menuju jenjang pernikahan . Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Kalau kata Anis Matta,“Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu kalau hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasulullah saw, “jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah”
Maka, semenjak itulah saya betul-betul mencintai Allah SWT, menyerahkan semua perkara pada-Nya, ikhlas pada takdirnya, dan pasrah pada apapun keputusannya. Saya hanya berusaha melibatkan Allah dalam setiap keputusan, sehingga apapun yang terjadi, biarlah itu menjadi keputusan Allah..Bukankah hanya Allah yang tahu apa yang terbaik utk hamba-Nya?
Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari )
Dan janji Allah tidak lah pernah salah. Saat saya berada pada titik pasrah dan ikhlas, pada titik itulah saya merasakan ketenangan yang amat sangat. Dan pada saat itulah Allah memberikan jawaban dan jalan yang mudah sehingga saya bertemu dengan jodoh saya. Proses nya tidak selancar jalan tol, juga tidak semacet jalan raya jakarta pagi dan sore hari. Ada kendala tapi insyaallah selalu ada solusi nya. Mungkin ini yg dimaksud dengan jodoh :) 
Proses pernikahan saya berkisar dua bulan, dimulai sejak 23 ramadhan 1434 H, langsung khitbah pada 3 syawal 1434 H dan tanggal pernikahan disepakati tanggal 6 dzulhijah 1434 H. Beberapa minggu setelah menikah suami saya wisuda pascasarjana di UGM Jogjakarta, 1 bulan kemudian alhamdullilah saya positif hamil. Usia 6 bulan kehamilan, saya menyusul ujian tesis dan wisuda 1 bulan setelahnya di UNS Surakarta. Dan saat saya menuliskan ini, mendekati 3 hari menuju hari perkiraan hari lahir putri pertama kami. Alhamdullilah, bersyukur atas segala nikmat yg Allah berikan.
Mengutip seperti apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, sebait ini saya dedikasikan untuk suami saya, “aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga..."
Dan saya selalu bersyukur Allah SWT memberi saya jalan menuju takdir cinta seperti ini. Maka Sering pula saya menyampaikan ke adik2 tingkat yang sedang menanti jodohnya "do the best what you can do now, karena percayalah apa yang kamu lakukan sekarang, sesungguhnya juga sedang ia lakukan sekarang. entah siapapun ia, entah dimanapun ia. Jadi berfokuslah pada apa yang kamu lakukan bukan pada-siapanya. karena ia yang milikmu adalah ia yang akan datang saat kamu sedang berada dikondisi yang terbaik"
 Perjalanan panjang itu membuat saya menyimpulkan bahwa “Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..”  dan semoga saat kita mencapai takdir itu, saat itulah kita berada pada titik keimanan tertinggi.


Solo, 18 Syawal 1435 H


*Nunik Nurhayati, M.H, istri dari Rohmad Suryadi, M.A. Dapat ditemui di fb: nun1q@yahoo.com atau blog: www.thecolourfulmemories.blogspot.com