Friday, 12 July 2013

lurus

serial ramadhan 3

"meluruskan niat itu artinya memperbaiki cara"

Thursday, 11 July 2013

diluar kendali manusia

ini adalah tulisan serial Ramadhan 2 saya. Dan ternyata tidak selamanya rencana itu bisa dijalankan sesuai rencana, contohnya tulisan kali ini. Niatnya setiap abis tilawah setelah subuh menulis, tapi ternyata baru hari ke 2 rencana itu tidak terjadi. Jadi ingat dulu ada pelatihan kepemimpinan pas jadi mahasiswa Baru, ada sesi workshop biikin bangunan dari sedotan. Syaratnya sebelum negebangun itu sedotan, setiap tim harus menuliskan dan menggambarkan mau dibangun dengan bentuk seperi apa sedotan2 tadi. ternyata tidak ada satu pun tim yang berhasil membangun sedotan sesuai design awal. Gagal kah? kalo kata kakak pelatihnya, itu bukan gagal, tapi merubah strategi, yang peting jadi bangunannya bahkan bisa jadi lebih kokoh. Jadi ini cuma hal strategi. sejenis ihtiar.. Nah, gagal itu adalah saat itu sedotan gak jadi bangunan gara-gara cuma di design aja, gak dibangun2.

Jadi, apa hubungannya bada subuh sama sedotan? hahaha. ya saya sepakat dengan kakak pelatih tadi kalau rencana saya menulis bada subuh tidak terlaksana, bukan Gagal. yang penting kan tetap ada tulisan walaupun ditulis ba’da maghrib :D walaupun info ini gak penting tapi saya tetap menginfokan kalau bada subuh saya tidak menulis bukan karena tidur melainkan karena saya menggambar. (diulang ya) meng-gam-bar. lebih tepatnya menggambar keluarga lengkap ayah, ibu, dan 5 anak. *tepok jidat*. oya, bahkan semalam setelah tarawih saya menggambar pegunungan zaman SD, inget kan, ada 2 gunung, tengahnya matahari yang ada matanya sambil senyum, ada awan,  burung, terus dibwah gunung ada jalan yang membagi sawah dan pantai lengkap dengan perahunya. <~ ciri2 orang ga kreatif. hahaha.lagi juga uda lupa kapan terkahir kali gambar :D

Well, kali ini saya ‘terpkasa’ menggambar karena disodorin kertas sama maura (7th), Hania (5 th), dan farwah (3th). mereka adalah 3 dari 5 anak kakak tingkat saya, mba vida yang kebetulan selama ramadhan ini suaminya ada tugas di Jepang. Jadi kalo ada waktu saya menemaninya mengingat 2 anak yang lain masih 1 tahun dan 1 bulan. Anybody can imagine? hahaha

‘Tugas’ saya kalau nginep disana sederhana, menemani mereka menyalurkan ‘energi’ nya, sholat berjamaah, berbuka, sahur, dan tarawih karena Umminya masih masa nifas.

Ada yang pernah sholat terawih ngajak tiga anak yang ada usia 3 tahunnya? Alhamdullilah, farwah aktif ditempat, kalopun berpindah ga lebih dari radius 2 meter. Terus darimana saya tahu kalo radius nya ga lebih dari 2 meter sementara saya sholat? saya mengira-ngira, itu artinya ga khusyu’. hahaha. secara, anak orang kan.. yang paling ‘menarik’ adalah, di akhir2 rakaat tarawih, saya ga boleh sholat sama farwahkarena dia minta pulang . Dia nangis2 sambil narikin mukena dan beberapa kali teriak2..hadehh..untung ada anak depan yang nangisnya lebih kejer, jadi masih kategori aman. :D Tapi subhanallah, 2 kakak nya, sangat kondusif, walaupun mereka uda keliatan capek sholat (bacaan surat imam nya lumayan panjaannng), pas saya ga boleh sholat sama farwah, mereka berusaha memberikan beberapa solusi, dari ikut2an memberi pengertian ke farwah dengan pelan2, menawarkan untuk gantian sholat dengan saya "ammah, kita gantian sholat aja, kita dulu yg sholat, nnt pas ammah sholat, kita jagain farwah", sampai akhirnya melakukan islah ke adiknya “farwah, kan kalo kita sholat kan bisa berdoa minta rizki sama Allah kan, jadi kalo kita sholat besok kita bisa beli permen". dan seketika itu juga kita bisa sholat, bahkan farwah ikut sholat :) <~ Masyaallah…*kalah dewasa :,) Dan alhamdullilah..terawih 11 rakaat tertunaikan dengan lengkap walau ga sempurna.

Tantangan selanjutnya adalah bangunin sahur, tapi umminya uda prepare, jadi sambil menyetel sinetron PPT yang jadi iming2 biar cpt bangun adalah sahur pake nugget. jadi bangunnya ga susah2 banget :D

Terus, cerita panjang diatas hubungannya sama judul apa? hehe.. sebenernya masih nyambung dengan cerita saya kemarin bahwa bagi saya, bulan ramadhan kali  ini adalah bulan komunikasi efektif sama Allah. its mean bulan tawakkal :)

Saat farwah memutuskan untuk jalan2, dan saya sholat, sejujurnya saya khawatir, tapi saya ingat apa yang umminya pernah ceritakan ke saya bahwa semuanya punya Allah. jadi tawakkal-lah. Nah, selesai salam, saya bilang ke farwah bahwa ga boleh jalan didepan orang sholat nnt dosa.. dan dalam sholat saya waktu itu, saya bertawakkal pada Allah bahwa anak ini tidak akan jauh2 dan kembali ke shaf. setiap dia pergi saya khawatir, dan setiap kembali saya selalu tenang. (lagi juga saya yakin, memang tidak akan keluar area sholat karena hujan deras..hehehe)

Diluar kendali manusia, bukan berarti tak terkendali, tapi menyerahkan kendali ke yang Maha Mengendalikan. Allah Subbhana Wa Ta’alla. Kakak tingkat saya pernah bercerita pada saya tentang pesan seorang Ummahat, sebut saja namanya bu Una, yang selalu tepat dalam berkunjung dan tepat pula dalam memberikan ‘pesan’. Saya tulis biar tidak lupa. (yang saya tulis yang saya ingat aja. hehe)

Pertama, waktu Ibunda mba vida meninggal dunia. Bu Una datang takziyah dan berpesan untuk memelihara kesabaran. karena Setan itu biasanya mengganggu di 7 hari pertama untuk menghilangkan keikhlasan atas kepergian orang terdekat. Dan itu sangat sulit, maka memang kesabaran itu harus dipelihara.

Kedua, waktu Bu Una berkunjung pas mba vida lahiran anak ke-5. Bu Una berpesan bahwa harus bersyukur dikaruniai 5 anak, apalagi jika suaminya sering diluar rumah karena bekerja. Tidak banyak istri yang siap dengan kesibukan suaminya diluar rumah. Maka, dalam mendidik anak yang dibutuhkan tidak hanya teori parenting saja, tapi perlu pula ikhlas dan tawakkal. Bahwa semuanya milik Allah, termasuk suami dan anak-anak. Maka setelah orang tua berusaha mendidik anak-anak dengan ilmu, jangan lupa untuk bertawakkal, dan biarlah Allah juga mendidik anak-anak mereka secara langsung.

Ketiga, bu Una juga bilang kalau apapun yang dilakukan niatnya ibadah karena Allah,  maka bersiaplah dengan apapun yang terjadi. Karena kita tidak pernah tahu apakah kemudahan atau kesulitan yang akan dihadapi, maka mintalah kekuatan pada Allah semoga Allah menguatkan untuk melewati semua dengan keimanan yang penuh..

Sekian serial Ramdahan 2 ini, sudah mau adzan Isya.. yuuk..terawih, kali ini tanpa 3 anak :D

Ramadhan: Bulan Komunikasi

Ramadhan ini insyaallah saya akan membuat tulisan setiap hari, niatnya untuk beraktifitas setelah sahur, subur, dan tilawah. Jadi bisa ditulis, ini adalah tulisan seri ramadhan 1 versi saya :D hehe

Kali ini saya terinspirasi dengan banyak hal yang saya alami akhir-akhir ini. K.o.m.u.n.i.k.a.s.i. Jadi ingat buku komunkasi efektif yang saya baca SMA kelas II hasil pinjaman dari perpustakaan daerah yang letaknya percis dibelakang sekolah saya, daerah Rawa bunga, kampung melayu. Covernya warna hitam, kalo ga salah ingat penulis nya Tom Peter <~ tapi kayanya ini salah, betul2 lupa :D. semenjak membaca buku itu saya yang sejak SD-SMP introvert, tiba2pas SMA  berubah jadi ekstrovert.haha. Hampir setiap hari saya membaca buku ini, bahkan saya ceritakan ulang ke teman saya~suatu hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, maklum introvert :) apa-apa dipendam sendiri dan diceritakan kepada diri sendiri.

Mungkin latar belakang keluarga dan pola asuh (orang tua saya bekerja, dan kakak2 saya sibuk) jadi, saya jarang ‘berbicara’ di rumah. Waktu SD, Jika bermain dengan teman di sekitar rumah, sayapun sering nya diam. Tidak pernah ikut menceritakan karena saya sering malu dengan keadaan saya sendiri. Tapi kalau disekolah agak-agak percaya diri karena rangking sering rangking 1-3, terkenal jago matematika dan bahasa inggris,  jadi tidak semakin menambah beban introvert :D

Pas SMP, semakin introvert, pernah gemeteran pas disuruh ngomong depan kelas. Apalagi hampir ga pernah dapet rangking gara2 masuk SMP favorit karena temennya pinter2 semua. Makin aja introvertnya. haha. tapi saya selalu ingat, setiap saya naik angkot ke sekolah, saya suka mengamati sekitar dan sering saya berfikir tentang kenapa dan harus apa. atau bagaimana dan apa.  Melamun ya, tapi sepertinya sense ‘thinking’ saya sudah terpola sejak SMP. tapi ya tadi, introvert..padahal banyak gagasan hasil dari saya ‘melamun’ saya itu, jangankan disampaikan ke orang, menulisnya saja tidak kefikiran.

Alhamdullilah, Pas SMA makin bertemu dengan banyak orang, berdasarkan hasil melamun saya waktu itu, kalo hidup kita harus berpindah lokasi-mungkin hijrah maksudnya. Jadi, kalo SD tinggal jalan kaki dari rumah, SMP harus naik angkot 15 menit, nah pas SMA harus lebih jauh. Akhirnya saya pilih SMA yang butuh waktu 1 jam naik metro mini karena macet. Hasil pikiran saya waktu itu, semakin jauh kita berpindah akan semakin banyak hal yang kita dapatkan. Dan betul saja, pas SMA saya bertemu banyak orang, bergabung di ROHIS dan OSIS, ikut pengajian mentoring SMA, sering jadi panitia, sering rapat, ditambah baca buku yang tadi akhirnya tiba2 berubah jadi ekstrovert. hehehe. Apalagi dulu jadi sekretaris MPK yang ketuanya terlalu cool. Jadi deh, otomatis  ngurusin administrasi organisasi sampe jadi ‘Humas’ nya si ketua. Pas kelas 3 pernah ikut lomba debat sos-pol se jakarta, jadi juara 1. hehe.. makin keliatan ekstrovertnya, tapi sebenernya, pas lomba itu saya lebih ke administrasi misalnya ngumpulin bahan2 materi lomba atau nyiapin syarat administrasi lomba. yang lebih berperan dalam analisis dan mengagas adalah teman saya, si ketua MPK itu, faisal. haha. terus dilanjutkan si amel. Kalau bagian ngomong saya yang bagian gampang-gampang aja itupun setelah dikasih tau sama faisal. (well, dia kuliah di HI FISIP UI, jurusan impian saya sejak SMA dan betul2 cuma impian haha, dan pas saya masuk S2, dia sudah lulus master dari Nottingham university<~ terlalu pinter, sebel. haha) ya, semoga sakinah ma waddah wa rohmah ya cal :)

Oke, paragraph dari SD-SMA keliatan fluktuasinya. belum lagi kalo nambah paragraph cerita pas kuliah, semakin banyaakkk..hehe. tapi bukan itu poin dari seri ramadhan ini. Tulisan panjang diatas, saya hanya ingin menggambarkan bahwa introvert itu sesuatu yang sangat tidak nyaman, dan untuk percaya diri, butuh suport lingkungan sekitar dan tentunya latihan. Tapi saking terlatihnya terlalu ekstrovert ternyata juga tidak baik. 

Itu yang saya pahami akhir-akhir ini, tepatnya sebelum Ramadhan. Saya yang karena tuntutan profesi harus ekstrovert dan speak up, membuat saya terbiasa berkomunikasi efektif, bahkan menjadi mediator dan rata-rata hasil mediasi saya berhasil. Seringnya, sayapun memediasi diri saya sendiri. Akhirnya, hal itu membuat saya berfikir bahwa semua masalah bisa selesai dengan melobi, diskusi, dan meyakinkan orang-orang dengan berbicara. cukup dengan teori, alibi, dan gaya berbicara yang meyakinkan, maka semua masalah bisa selesai. Tapi ternyata tidak juga. dan menurut saya itu suatu kesombongan yang tidak bisa dibanggakan sama sekali.

Alhamdullilah Allah selalu men’tarbiyah’ saya langsung lewat orang-orang disekitar saya. Suatu saat, ternyata saya tidak bisa menyelesikan masalah saya sendiri. Saat saya sudah lelah menyusun kata-kata dan speak up ke pihak2 terkait, kemudian,saya pun sudah lelah menjadi komunikan dan komunikator yang baik, dtambah saya kecewa karena saya merasa tidak ada yang bisa menjadi mediator yang baik saat itulah Allah mengirim saya ke orang-orang baik. 

Tepatnya dua orang baik, kakak kandung saya (Mba Rini), dan kakak tingkat kuliah saya (Mba vida) yang mengingatkan saya tentang sabar dan tawakkal. Dan ternyata itulah komunikasi sesungguhnya. Mengkomunikasikannya ke Allah langsung, lewat do’a.. Bukankah surga, dunia, manusia, dan seisinya semua milik Allah? maka, berbicaralah ke Allah dan Allah adalah sebaik-baiknya mediator. Berkomunikasilah yang baik pada Allah, dengan sejujur-jujurnya hati, memohon ampun, bersyukur, berkeluh kesah, dan memohon suatu hal. Dan terpenting, tidak perlu meng-intervensi Allah, cukup meminta, karena “Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu)." (HR.Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)

Bahkan Rasulluloh aja, tidak bisa meyakinkan pamannya untuk masuk islam. Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pamannya menjelang wafatnya, “Katakanlah, “Laailaahaillallah” agar aku dapat bersaksi dengannya untukmu di hadapan Allah.” Namun ia menolaknya, maka Allah menurunkan ayat, “Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.S Al Qassas: 56)

Tawakkal adalah sebaik-baiknya komunikasi, karena disana ada sisa ikhtiar dan kepasrahan sejadi-jadinya. Ikhtiar yang tawadu’, menjauhkan kesombongan, meyakinkan sebuah harapan, diantara keikhlasan akan sebuah kepasrahan demi sebuah surga di keabadian. 

"Dan orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (didalam surga), yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebajikan, yaitu orang yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya" (QS.Al-ankabut:58-59)

Dan bagi saya, Ramadhan adalah bulan komunikasi paling efektif kepada Allah Ta’alla. Karena setiap yang kita laukan bernilai ibadah dan setiap waktunya bisa menjadi waktu diijabahnya setiap do’a yang kita komunikasikan kepada Nya.

Friday, 5 July 2013

apel lilin, gas, dan kiamat

soal lilin dan apel ini, sebelumnya sudah pernah saya share di facebook. Waktu itu saya belanja di belanja di swalayan besar, dan di bagian makanan dan buah ada sale apel lumayan murah. sekilo nya ga sampe Rp.15.000. Kayanya apel Import karena ada label mereknya.  Seger banget merah2 dan banyak jadi beli lah untuk stock buah dirumah.

Ga sengaja waktu itu saya liat juga ada tanda arah jalur evakuasi gempa. Kalo ga salah inget juga memang ada regulasinya utk gedung tinggi harus dilengkapi arah tanda evakuasi mengingat akhir2 ini di Indonesia sering terjadi Gempa dan korban terbanyak adalah yang terperangkap dalam gedung tinggi. Masih ingat waktu gempa padang dimana korban terbanyak ada di dalam hotel yang hampir rata dengan tanah. Regulasinya ada di Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Pasal 59 ayat (1): "Setiap bangunan gedung, kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana, harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi yang dapat menjamin kemudahan pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat"

Sesampainya dirumah saya langsung mencuci apel tadi dan memakannya tanpa dikupas kulitnya. Tak lama saya ingat tentang buah yang dilapisi zat lilin, langsung saja saya mengerok pelan dengan pisau. dan ternyata, done. ada lilinnya dan saya sudah memakannya :'(

Kemudian saya berfikir tentang keselamatan jiwa. Bayangkan jika ada konsumen yang tidak menyadari ada lapisan lilin dalam buah yang ia makan. sesekali gapapa mungkin ya, tapi kalau cukup sering,gak kebayang gimana lilin yang bukan food grade masuk dalam tubuh. Kalaupun memang tujuan pelaipasan lilin pada buah adalah untuk menjaga kualitas makanan, menurut saya ga masalah kalau ada pemberitahuan seperti plang atau tulisan yang memberitahukan bahwa buah ini dilapisi zat lilin. Jadi kan konsumen lebih antisipasi untuk mengkonsumsinya. Ini kan bagian menyelamatkan jiwa juga tapi jangka panjang. Dan itu sebenernanya tujuan dari perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen  Pasal 3 (d) "menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi"

Kenapa ya,tanda jalur evakuasi untuk gempa dipasang, tapi tanda penggunaan zat lilin pada buah tidak dipasang? Kan sama-sama bertujuan menyelamatkan jiwa. Efek kerugian yg langsug terasa dlm wkt cepat kadang lbh terantisipasi dbanding efek itu akan trasa dlm jangka panjang.
 
 
Saya pun memposting ulang tentang aple ini karena kemarin lihat di newssticker stasiun TV kalau dalam waktu 30 tahun persedian Gas akan habis.  Padahal minyak tanah pun sudah langka. Berarti harus ada energi baru untuk bahan bakar memasak. Terus kalau ga ada, apakah harus kembali memasak dengan kayu bakar? well, bahkan kemungkinan persediaan pohon sudah mulai menipis mengingat banyak illegal logging untuk menstok kebutuhan industri seperti kertas, tissue, atau furniture. Sama-sama menyelamatkan jiwa juga bahkan untuk generasi mendatang, tapi masih bias..

Atau seperti zaman dahulu dimana untuk konsumsi tidak semua makanan harus dimasak, misalnya lebih banyak konsumsi buah, sayuran mentah, Tapi penggunan pestisida saat ini sepertinya diluar kontrol. Padahal pestisida bisa meresap sampai kedalam buah atau sayur. dimasak pun tidak menghilangkan 100% pestisidanya apalagi kalau tanpa dimasak?

Jadi inget tadi liat berita kalau harimau di kebun bunatang Surabaya sedang di rawat intensif karena kekurangan gizi akibat bertahun-tahun memakan daging berformalin. Allahu Rabbi, sebenrnya ada apa dengan dunia ini?

Betul juga buku yang teman saya tulis tentang The End of Future. Faisal Karim, teman SMA yang sejak 2 tahun yang lalu namanya ada tambahan gelar M.A dari nottingham university dan dia juga concern tentang keamanan Internasional.  Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa kiamat bisa jadi disebabkan karena ulah manusia sendiri yang tak bisa menjaga kestabilan lingkungan. Dan kemudian perang tidak lagi karena perang ideologi tapi karena untuk berebutan alam untuk hidup. Mengerikan :'( Padahal Islam sudah mengatur tentang kesinambungan alam dengan penuh kedamaian.. 

Bagi yang mau baca bukunya silahkan download di sini.

Dari Apel sampai kiamat.. Subhanallah.

Tapi saya yakin, orang baik masuk Surga. Soalnya orang baik itu akan menjalani aturan hidup yang baik dengan baik. “Allah mewajibkanmu mengabdi kepada-Nya, dan (itu berarti) Dia hanya mewajibkanmu memasuki surga-Nya.” (Ibn Athaillah - Al Hikam).

Minimal jangan buang sampah sembarangan bahkan kalau perlu menjaga kebersihan lingkungan. Rasulluloh pesan, "Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." (HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah). terus juga "Sesungguhnya Allah itu Mahabaik yang mencintai kebaikan, Mahabersih yang mencintai kebersihan. Oleh sebab itu, bersihkanlah halaman-halaman rumah kamu dan jangan menyerupai Yahudi." (HR Tirmidzi dan Abu Ya'la). "

Kalau ada lahan mulai menanam pohon, reboisasi,, kita juga kok yang merasakan manfaatnya bisa menghirup oksigen segar, sayurannya juga bisa langsung dikonsumsi dan menjamin tanpa pestisida. Bahkan bisa buat sedekah. "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah." (HR Muslim dan Ahmad). Dalam hadis lain disebutkan: "Barang siapa yang menghidupkan lahan mati, baginya pahala. Dan semua yang dimakan burung dan binatang menjadi sedekah baginya." (HR An-Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad).
Kemudian, mari hemaattt energi.. Suatu hari, Rasulullah melewati Sa'ad sedang berwudhu (dan banyak menggunakan air). Beliau mengkritik, "Mengapa boros wahai Sa'ad?" Sa'ad menjawab, "Apakah ada pemborosan air dalama wudhu?" Rasul menjawab, "Ya, walaupun kamu berada di sungai yang mengalir." (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Dengan menjaga lingkungan, kita juga menjadi warga negara yang Baik, soalnya, konstitusti UUD 1945 dalam pasal 28H ayat (1) menegaskan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Nah, dengan menjaga lingkungan sekitar, kita sudah bantuin negara melaksanakan kewajibannya untuk melestarikan lingkungan hidup yang baik dan sehat untuk memenuhi hak warga negaranya.

Insyaallah, Kalaupun tidak bisa berkontribusi memperbaiki lingkungan, ya minimal tidak berkontribusi menambah lingkungan semakin rusak.  


Bagaimana Allah mencintai Hamba-Nya

Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari )

Allah SWT berfirman, “Tidak seorangpun hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku cintai, melainkan dengan apa yang telah aku wajibkan kepadanya. Hambaku adalah orang yang selalu mengerjakan ibadah-ibadah nawafil (amalan-amalan sunnah) sehingga aku mencintainya. Ketika aku telah mencintainya, maka akulah yang akan menjadi telinga yang dia gunakan untuk mendengar, mata yang dia gunakan untuk melihat, tangan yang dia gunakan untuk memukul, kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti aku berikan, dan jika dia butuh perlindungan-Ku, pasti aku lindungi.”  (H.R. Bukhari)

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulluloh), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Ali Imran: 31)
“Jika telah lewat tengah malam atau sepertiga malam yang akhir, Allah Yang Maha Mulia dan Agung turun kelangit yang paling rendah (langit dunia), lalu berkata: Adakah orang yang meminta kepada-Ku saat ini, pasti akan aku beri, adakah orang yang memohon ampun, pasti aku ampuni, adakah orang yang bertaubat, pasti aku berikan taubat-Ku, adakah orang yang memerlukan-Ku, pasti akan aku penuhi.” Dan itu terjadi setiap malam hingga terbit fajar”. (HR. Bukhari)

“Ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya: Imam yang adil, pemuda yang rajin beribadah, seorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah, seorang yang menyembunyikan sedekahnya tidak ingin dilihat orang, dan seorang yang mengingat Allah dalam keheningan hingga menitikkan airmata.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

"Kecintaan-Ku untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, Kecintaan-Ku untuk orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku, Kecintaan-Ku untuk orang-orang yang saling berkorban di jalan-Ku, Kecintaan-Ku diberikan untuk orang-orang yang saling menyambung kekerabatan karena-Ku." (HR. Ahmad dan Ibnu HIbban dalam al-Tanashuh. Syaikh Al-Albani menyahihkan hadits di atas dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 3019, 3020, 3021)

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang ridha (terhadapnya) maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. (HR. Ad-Dailami)

Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yg selalu taqwa, selalu merasa cukup, dan berusaha menyembunyikan amal." (HR.Muslim)

Pada suatu ketika seorang sahabat nabi berkata kepada sahabat lainnya, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Orang tersebut membalas dengan ungkapan, “Semoga Allah yang menjadikanmu, mencintaiku juga mencintaimu sebagaimana engkau mencintai aku.” (HR. Abu Dawud, shahih)