Long life learning, karena setiap warna dalam hidup ada hikmah yang harus terus dipelajari menuju kebijaksanaan diri. Enjoy the life~
Thursday, 7 May 2015
mie wortel jamur rasa mie ayam :D
Nah,ini dia mie wortel jamur rasa mie ayam hehehe
Karena cetakan pasta sy sdh ketemu akhirnya saya bisa bikin mie sendiri. Cukup terigu,tapioka, telur, sari wortel, dan sdkt garam. Jamurnya, ya cuma bumbu dasar dan kecap.
Anak saya, faza usia 8 bulan, minta mie nya utk mainan, ya saya kasih dengan tenang tanpa perlu khawatir jika dimakan... :D
Resep mienya
Sari wortel: Wortel 2 diblender sama 150ml air, peras, ambil airnya campur telur 1 aduk. (2500)
Terigu 250gr, tapioka 4sdm, gram 1sdt, aduk rata, masukan sari wortel dikit2 dan uleni sampai tdk lengket ditangan. (3000)
Tinggal giling,cetak, taburin tapioka biar ga lengket. Terus rebus campur sawi. (1000)
Bisa utk 6 porsi mangkok besar..
Kalo kebanyakan, taruh plastik, masukin freezer bisa tahan 1minggu. Atau td saya goreng rasanya kaya mie2 kemasan siap makan yg ada bumbunya dan biasa dibeli anak2. Hhe
Jamurnya,
Cuma bw merah putih jahe lengkuas ditumis, trus tambahin gulgar, lada bubuk, pala bubuk, daun bawang, jamur tiram, air, kecap (6000)
Tata deh ala mie ayam.. tambahin garam krn kuahnya dr air panas dispenser heheheh
Friday, 3 April 2015
Kisah 3 Pemuda yang Terjebak Dalam Goa
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu 'anhuma, dia berkata: “aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:’ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus berminap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata:’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku).
Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi bersabda lagi: ‘ yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya ; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata:’tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda lagi: ‘ kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab:’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata :’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)
Pelajaran-Pelajaran Yang Dapat Dipetik
* Berbakti kepada kedua orangtua
Hadits diatas juga menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua (birr al-Wâlidain), patuh, melakukan kewajiban terhadap hak-hak keduanya dan mengabdikan diri serta menanggung segala kesulitan dan derita demi keduanya. Diantaranya hak-hak keduanya adalah:
Melakukan perintah keduanya selama bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, melayani, membantu dalam bentuk fisik dan materil, berbicara dengan ucapan yang lembut, tidak durhaka serta selalu berdoa untuk keduanya.
Memperbanyak doa untuk keduanya, bersedekah jariyah atas nama keduanya, melaksanakan wasiat, menyambung rahim serta memuliakan rekan-rekan keduanya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, [23]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: " Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".[24] (Q,.s. 17/al-Isra’: 23-24)
* Berbakti kepada kedua orangtua merupakan sebab terhindarnya dari kesulitan-kesulitan di dunia dan keselamatan dari ‘azab akhirat
Dalam kisah diatas, salah seorang dari mereka, bertawassul kepada Allah melalui perbuatannya yang dianggap paling afdlal dan ikhlas dilakukannya, yaitu berbakti kepada kedua orangtuanya sehingga hal menjadi sebab merenggang dan terbukanya rongga gua dari batu besar yang menutupnya.
Abu Darda’ radhiallaahu 'anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “orangtua merupakan pintu pertengahan di surga; jika kamu menginginkannya, maka jagalah ia atau bila (tidak) maka sia-siakanlah “.
Sebagaimana, berbakti kepada kedua orangtua juga merupakan sebab masuk surga, sementara durhaka kepada keduanya merupakan sebab mendapatkan ‘azab di dunia dan akhirat.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:”Ada tiga orang yang tidak dapat masuk surga: ‘seorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya; orang yang menyetujui terjadinya zina terhadap keluarganya serta wanita yang kelelakian (yang menyerupai laki-laki)”. * Mengambil pelajaran dan wejangan dari kisah-kisah umat terdahulu
Seorang Muslim patut mempelajari dan merenunginya sehingga dapat bermanfa’at bagi kehidupannya. Bukankah Allah Ta’ala telah mengisahkan banyak sekali kisah-kisah umat-umat terdahulu, terutama para utusan Allah, kepada kita?. Semua itu, tentunya agar generasi selanjutnya dapat memetik pelajaran dari mereka. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q,.s.12/Yûsuf: 111)
Thursday, 14 August 2014
“Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..”
“Karena
setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..” *
Syndrome mahasiswa akhir semester biasanya tidak jauh dari tiga
hal; lulus, bekerja, dan menikah. Dan itu tidak terkecuali saya. Dan syndrome itu semakin menjadi-jadi saat
satu per satu teman saya lulus, bekerja, dan menikah, sementara saya masih di
kampus. Dan terus di kampus sampai akhirnya saya melanjukan jenjang S2 di
fakultas dan universitas yang sama. Tidak jarang, banyak teman, saudara, dan
bahkan keluarga bertanya “kapan saya
menikah?”. Dan dengan wajah innocent,
saya hanya bisa menjawab, “ya, insyaallah
segera, mohon doanya ya”. Padahal, dalam waktu yang bersamaan hati saya
menjawab, “mau nya sekarang juga nikah,
tapi tidak tahu sama siapa, kapan, bla bla bla….”
Dua jawaban yang kontradiktif dimana lisan dan hati bertentangan satu
sama lain. Padahal, Iman itu diimani dalam hati, diungkapkan dalam lisan, dan
diamalkan dalam perbuatan. Dan ilmu berbanding lurus dengan iman, itu artinya
iman saya masih goyah karena ilmu saya masih kurang. Bahkan terkadang saya
bertanya penuh dengan keraguan mengapa Allah Ta’alla tidak segera mempertemukan
saya dengan jodoh saya, bahkan menyalahkan beberapa orang mengapa tidak
membantu saya mencarikan jodoh untuk saya.
Tahun-tahun yang cukup berat untuk saya lewati diantara deadline Tesis,
pekerjaan sebagai asisten peneliti yang penuh tekanan, tuntutan untuk menikah,
dan kabar-kabar pernikahan dan kelahiran dari teman-teman. Sementara saya belum
tahu, kapan saya akan menikah dan tidak tahu dengan siapa saya akan menikah. Di
saat-saat itu, ternyata Allah SWT malah memberikan saya tambahan pekerjaan
untuk mengelola Sekolah Pranikah (SPN) yang hampir setiap sesinya saya menjadi
moderator. Ya, alhamdullilah saya aktif di LSM Komunitas Peduli Perempuan dan
Anak (KPPA) BENIH di Solo. Karena itu, setiap kali saya memoderatori SPN,
setiap itulah saya semakin dilema dan semakin gelisah. Namun setiap itulah saya
semakin berfikir dan semakin terbuka memandang tentang pernikahan,
persiapannya, dan tantangannya setelah menikah.
Ilmu itu menenangkan,
ilmu yang memberikan panduan pada kita mana yang benar mana yang salah, mana
yang harus kita lakukan mana yang tidak boleh dilakukan, Ilmu yang fitrah untuk
semua makhluk, ilmu yang mendekatkan pada keadilan menempatkan semuanya sesuai pada
tempatnya, Ilmu yang mendekatkan hamba dengan Tuhan-nya, Ilmu yang
menambah keimanan, Ilmu yang memberikan kemanfaatan, Ilmu yang memberikan
kekuatan untuk bersabar, Ilmu yang memudahkan menangkap sebuah hikmah dari
setiap kejadian, Ilmu yang menambah kebijaksanaan sebuah kepribadian.
Satu hal yang membuat saya berkontemplasi hebat adalah saat salah satu pembicara SPN memaparkan salah satu ayat dalam al-qur’an, ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah (tentram) kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)
Barulah saya memahami bahwa Allah akan memberikan kado pernikahan berupa sakinah ma waddah wa rohmah kepada kedua mempelai yang sudah melakukan ijab qabul. Berarti rasa cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya baru akan ada setelah pernikahan itu terlaksana. Dan itu akan terjadi ketika proses sebelum menikah, saat menikah (walimat ursy), dan setelah menikah dilakukan dengan cara yang Allah ridhoi. Dan yang lebih harus dipastikan adalah bagaimana meluruskan niat bahwa pernikahan itu adalah ibadah, hanya kepada Allah SWT..Insyaallah.
Dari situ saya meyakini bahwa pernikahan adalah sebuah
mitsaqon ghalizan, sebuah perjanjian yang berat. Pernikahan haruslah memenuhi
kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah
itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan
ketentuan dari Allah, termasuk didalamnya dalam pemilihan calon dan proses
menuju jenjang pernikahan . Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai
keridhoan Allah.
Kalau kata Anis Matta,“Dua
jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu kalau hajat mereka sama. Hikmah itulah
yang disampaikan Rasulullah saw, “jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang
dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan saling
melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan
saling berbeda dan berpisah”
Maka, semenjak itulah saya betul-betul mencintai Allah SWT, menyerahkan
semua perkara pada-Nya, ikhlas pada takdirnya, dan pasrah pada apapun
keputusannya. Saya hanya berusaha melibatkan Allah dalam setiap keputusan, sehingga apapun yang terjadi, biarlah itu menjadi keputusan Allah..Bukankah hanya Allah yang tahu apa yang terbaik utk hamba-Nya?
Sesungguhnya
Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan
berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka
Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk
langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang
ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit
pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di
muka bumi ini.” (HR. Bukhari )
Dan janji Allah tidak lah pernah salah. Saat saya
berada pada titik pasrah dan ikhlas, pada titik itulah saya merasakan
ketenangan yang amat sangat. Dan pada saat itulah Allah memberikan jawaban dan
jalan yang mudah sehingga saya bertemu dengan jodoh saya. Proses nya tidak selancar jalan tol, juga tidak semacet jalan raya jakarta pagi dan sore hari. Ada kendala tapi insyaallah selalu ada solusi nya. Mungkin ini yg dimaksud dengan jodoh :)
Proses pernikahan saya berkisar dua bulan, dimulai sejak 23 ramadhan 1434 H, langsung khitbah pada 3 syawal 1434 H dan tanggal pernikahan disepakati tanggal 6 dzulhijah 1434 H. Beberapa minggu setelah menikah suami saya wisuda pascasarjana di UGM Jogjakarta, 1 bulan kemudian alhamdullilah saya positif hamil. Usia 6 bulan kehamilan, saya menyusul ujian tesis dan wisuda 1 bulan setelahnya di UNS Surakarta. Dan saat saya menuliskan ini, mendekati 3 hari menuju hari perkiraan hari lahir putri pertama kami. Alhamdullilah, bersyukur atas segala nikmat yg Allah berikan.
Proses pernikahan saya berkisar dua bulan, dimulai sejak 23 ramadhan 1434 H, langsung khitbah pada 3 syawal 1434 H dan tanggal pernikahan disepakati tanggal 6 dzulhijah 1434 H. Beberapa minggu setelah menikah suami saya wisuda pascasarjana di UGM Jogjakarta, 1 bulan kemudian alhamdullilah saya positif hamil. Usia 6 bulan kehamilan, saya menyusul ujian tesis dan wisuda 1 bulan setelahnya di UNS Surakarta. Dan saat saya menuliskan ini, mendekati 3 hari menuju hari perkiraan hari lahir putri pertama kami. Alhamdullilah, bersyukur atas segala nikmat yg Allah berikan.
Mengutip seperti apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, sebait ini saya dedikasikan untuk suami saya, “aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan
itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga..."
Dan saya selalu bersyukur Allah SWT memberi saya jalan menuju takdir cinta seperti ini. Maka Sering pula saya menyampaikan ke adik2 tingkat yang sedang menanti jodohnya "do the best what
you can do now, karena percayalah apa yang kamu lakukan sekarang, sesungguhnya
juga sedang ia lakukan sekarang. entah siapapun ia, entah dimanapun ia. Jadi
berfokuslah pada apa yang kamu lakukan bukan pada-siapanya. karena ia yang milikmu
adalah ia yang akan datang saat kamu sedang berada dikondisi yang terbaik"
Perjalanan panjang itu membuat saya menyimpulkan bahwa “Karena
setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..” dan semoga saat kita mencapai takdir itu, saat itulah kita berada pada titik keimanan tertinggi.
Solo, 18 Syawal 1435 H
*Nunik
Nurhayati, M.H, istri dari Rohmad Suryadi, M.A. Dapat
ditemui di fb: nun1q@yahoo.com atau blog: www.thecolourfulmemories.blogspot.com
Monday, 12 May 2014
yg ada di halaman Tesis
Motto
“Dan Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang (ilmu) agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
(Q.S At Taubah: 122)
“Pahamilah, jika kita mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakikat ilmu (akhirat), niscaya kita akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan seseorang (ulama) menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu, tapi mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT”
(Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin)
Karena “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS : Mujadalah:11)
Dan “Barang siapa yang berjalan pada suatu jalan untuk mencari limu, maka Allah memberinya jalan menuju surga” (H.R Muslim)
"...Maka bersabarlah, sungguh kemudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa" (Q.S Hud: 49)
“Dan Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang (ilmu) agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
(Q.S At Taubah: 122)
“Pahamilah, jika kita mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakikat ilmu (akhirat), niscaya kita akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan seseorang (ulama) menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu, tapi mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT”
(Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin)
Karena “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS : Mujadalah:11)
Dan “Barang siapa yang berjalan pada suatu jalan untuk mencari limu, maka Allah memberinya jalan menuju surga” (H.R Muslim)
"...Maka bersabarlah, sungguh kemudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa" (Q.S Hud: 49)
Tesis ini saya persembahkan kepada:
Allah SWT, tujuan dari segala tujuan
Semoga segala ilmu bermanfaat untuk kemaslahatan ummat
Demi tercapainya Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di muka bumi ini, InsyaAllah.
Allah SWT, tujuan dari segala tujuan
Semoga segala ilmu bermanfaat untuk kemaslahatan ummat
Demi tercapainya Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di muka bumi ini, InsyaAllah.
Sunday, 11 May 2014
sidang tesis
alhamdullilah... setelah banyak hal yang terlewati, dan telat 10 bulan dari deadline 2 tahun.. akhirnya, bisa sidang ujian Tesis. Entahlah, mungkin memang omongan itu doa ya, jadi waktu itu uda niat banghet kalo Tesis akan dikerjain pas lagi hamil. Harapannya biar sekalian belajar sama bayinya. Tapi waktu itu kan niatnya dari semester 1 dengan harapan semester 2 nikah, semester 3 hamil, semester 4 sidang tesis dan wisuda. Tapi ternyata, nikahnya pas semester V. hehe.. Alhamdullilah 1 bulan nikah langsung hamil, jadi mau ga mau finishing tesis biar kalo sudah lahiran ga terbayang2 konsultasi pembimbing dan ngeprint bolak-balik :D.
Setelah nikah 1 bulan rajin banget ngerjain tesis, dan setelah tersusun ternyata baru tau kalo hamil hehe.. pas tau hamil malah hibernasi karena mual dan muntah yang agak ekstrim, jadi 4 bulan ga dikerjain lagi. Tapi habis itu, langsung ngebut dan di acc ujian pas 6 bulan kehamilan :) Alhamdullilah dapet jadwal 6 mei 2014, padahal, hari terakhir pendaftran wisuda bulan juni adalah 9 mei. Jadi habis ujian langsung ngerjain revisi 2 hari selesai. soalnya kalau setelah tanggal 9 mei belum selesai urusan revisi, berarti bisanya daftar wisuda untuk bulan sepetember dan (insyaallah) itu baru sekitar 2 minggu melahirkan.. kesian bayi 2 minggu ikut wisuda seharian atau ditinggal dirumah seharian.
Akhirnya, Pas tanggal 9 mei kemarin, dengan semangat '45 ke pembimbing dan penguji ngajuin revisian tesis. Tapi dapat kabar kalau ketua penguji sekaligus ketua Prodi tidak ke kampus hari itu karena tidak ada jadwal ke kampus dan kemungkinan baru ke kampus senin. Itu artinya revisi tidak akan di acc hr itu, yudisium tidak akan keluar, dan artinya ga bisa daftar wisuda bulan juni. Saya pun sms suami dan saudara2 saya kalau kemungkinan saya tidak bisa wisuda juni.
Pasrah, ikhlas..
Yaudahlah, kalau memang tidak bisa, yang penting sudah berusaha. yang di revisi banyak banget soalnya, sampe dibantuin suami nyusun daftar pustaka dll dari BAB I-V. Gak mungkin selesai 1 hari. Allakulihal, setelah bolak-balik naik turun tangga di gedung yang berbeda-beda, pada titik pasrah, tetep aja nunggu penguji yang lain utk mengajukan revisi yang kebetulan ruangannya di ruangan sebelah ketua penguji. dan tiba-tiba Bapak ketua penguji yang kata sekretarisnya tidak datang, ternyata datang. Langsung saya keruangannya, dan alhamdullilah, langsung di acc revisinya, di ttd pula tesis nya, bisa urus yudisium, dan bisa daftar wisuda bulan juni di hari terakhir pendaftaran..
Kalau nanti anak saya sudah lahir,dan sudah bisa membaca postingan ini,
"ummi cuma ingin mengucapkan terima kasih..karena dorongan mu Nak, ummi jadi semangat menyelesaikan amanah studi ini..terima kasih juga kamu selalu kuat dan sehat kalau ummi ajak lembur, atau bolak-balik seharian naik motor panas-panasan karena Abi kerja dan tidak bisa antar, naik turun tangga, menunggu berjam-jam sampai telat makan.. maaf ya Nak, tapi semoga ini menjadi pembelajaran berharga untuk mu kelak.. untuk struggle, fighting, sabar, dan totalitas dalam mencari ilmu karena keimananmu pada Allah Ta'alla.. Ummi doain semoga kamu sehat terus, sempurna tumbuh kembangmu, tanggal 7 juni ini insyaallah kita wisuda ya Nak :) Nanti Insyaallah bulan Agustus, setelah Idul Fitri kamu lahir, kita bisa bertemu langsung, nanti ketemu abi juga.. ada mbah putri, mbah kakung, dan saudara-saudara yang lain... kita akan terus belajar bersama sampai akhir hayat, belajar memaknai kehidupan di dunia, mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di akhirat, sama abi, sama adik-adikmu kelak, insyaallah.."
![]() |
| ini Nak, foto kita bertiga sama Abi setelah Ummi selesai sidang tesis, kamu masih usia 6 bulan di perut Ummi |
![]() |
| ini tim hore hore, hehe.. mba hani dan mba kipti yang dateng bawa makanan banyak banget Nak.. |
Subscribe to:
Comments (Atom)



