Beberapa waktu
lalu saya dihubungi oleh panitia GEMA MUSLIMAH UNS untuk mengisi talkshow
muslimah akhir april ini. TOR yang terakhir dikirim mengarahkan saya untuk
menyampaikan tema tentang “Mandiri: cerminan Muslimah masa kini”. Awalnya saya
agak kaget karena bagi saya tema ini cukup wow :D . biasanya, jika saya diminta
mengisi acara, temanya adalah hal-hal yang sudah saya lakukan atau biasa saya
lakukan. Tapi kali ini agak dilemma. Karena saya khawatir apakah saya termasuk
mandiri atau tidak.
Akhirnya,
saya searching di KBBI apa itu mandiri? Kurang lebih artiny mandiri itu tidak
bergantung pada orang lain. Wow agak ngeri juag ya pengertiannya. Karena bagaimanapun
kita makhluk zoonpoliticon, saling membutuhkan satu sama lain, even Tarzan juga
butuh ‘teman’ di hutan walaupun beda jenis kan..
Dan Beberapa
hari ini saya flash back, sejak SD sampai kuliah, saya memilih sendiri tempat
saya kuliah, mencari tahu segalanya sendiri, dan daftar sekolah sendiri, tapi
masih dibiayai orang tua J walaupun selama 5 tahun S1 saya mendapat
beasiswa 4 tahun, dan S2 ini saya full dibiayai oleh DIKTI Kemendiknas (Mohon
doa ya, baru kemarin akhirnya daftar ujian tesis semoga minggu depan dapat
jadwal ujian dan bisa ujian dengan lancar.soalnya Deadline HPL agustus ini hehe). Kemudian pernah
kelas 4 SD saya jualan pop ice didepan rumah, pas kuliah juga pernah terima
pesanan bikin snack untuk acara kemahasiswaan, produksi rok levis dan jilbab
yang pemasarannya sampai Kalimantan dan Sumatera. Tapi apa itu bisa disebut
mandiri ya? Karena saya yakin banyak muslimah yang lebih survive dan lebih
mandiri.
Well, balik
ke soal mandiri. Kalau pengertian mandiri seperti di KBBI itu kok saya kurang
sreg ya. Karena jelas tidak mungkin kita tidak bergantung pada orang lain. Apalagi
kalau sudah nikah ada suami kan, #eh (ini pembahsan khusus). :D
Kemudian,
balik ke tema: Mandiri: cerminan muslimah masa kini. Kalau masa rasulluloh,
muslimah nya gimana ya? Ada yang tau? Seinget saya tentang kisah Fatimah puti
Rasullulah.
Ali menuturkan bahwa Fatimah pernah mengeluh kepadanya. Ia merasa bahwa
pekerjaan menggiling gandum dengan batu demikian berat baginya. Suatu ketika,
Fatimah mendengar bahwa Rasulullah mendapat seorang budak. Fatimah pun
mendatangi rumah ayahnya dalam rangka meminta budak tadi sebagai pembantu
baginya. Akan tetapi Rasulullah sedang tidak ada di rumah. Fatimah lantas
mendatangi ummul mukminin Aisyah dan menyampaikan hajatnya.
Ketika Rasulullah berada di rumah Aisyah, ia menceritakan hal tersebut
kepada Rasulullah. Rasulullah lantas mendatangi kami (Ali dan Fatimah) saat
kami telah berbaring di tempat tidur. Mulanya, kami hendak bangun untuk
menghampiri beliau, namun beliau menyuruh kami tetap berada di tempat.
“Maukah kutunjukkan kalian kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang
kalian minta?” tanya beliau. “Jika kalian berbaring di atas tempat
tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33
kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian
daripada pembantu yang kalian minta.” lanjut Nabi (HR. Bukhari dan
Muslim).
Semenjak mendengar petuah Rasulullah tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan
wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin; sebagaimana
yang disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Bukhari.
Tahukah Anda, apa yang sebenarnya dikeluhkan oleh Fatimah? Beliau mengeluh
karena kedua tangannya bengkak akibat terlalu sering memutar batu penggiling
gandum yang demikian berat.
Subhanallah, ternyata puteri tercinta Rasulullah demikian berat ujiannya.
Pun begitu, beliau tak segera memenuhi keinginan puterinya tadi. Namun beliau
mengajarkan sesuatu yang lebih bermanfaat baginya dari seorang pembantu.
Sesuatu yang menjadikannya semakin dekat dan bertawakkal kepada Allah. Itulah
wirid pelepas lelah.
Karena kita
muslimah jadi sudah seharusnya kita mengembalikan segala sesuatu kepada Qur’an
dan Sunnah.
Saya ingat
beberapa ayat dalam alqur’an adalah ini:
- “…Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksa-Nya. “ (Q.S Al-maidah:2)
- DariAbu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan
satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu
kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang
lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang
muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah
senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”.
(HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).
Jalan tengahnya
adalah, jangan sampai kita menjadi orang yang sombong karena seolah-olah kita
tidak membutuhkan orang lain bahkan sampai tidak peduli dengan yang lain. Tapi
bagiamana kita saling tolong menolong dalam kebaikan dengan prinsip kita ingin
memudahkan urusan orang lain agara Allah memudahkan urusan kita.
Konsekuensinya
adalah:
- Muslimah harus punya banyak hal (knowledge,
skill, energy, or something) agar bisa survive dan tidak merepotkan orang lain.
Dan juga ada sesuatu yang bisa dibagi ke orang lain.
-
Muslimah harus punya akhlaq yang
baik agar kalau sudah punya banyak hal tidak sombong, dan tidak pula ingin
berbagi.
- Muslimah harus lebih mendekatkan
kepada Allah, karena mandiri bukan pekerjaan yang mudah. Namun jika dekan
dengan Allah maka segalanya akan menjadi mudah seperti contoh kisah Fatimah
putri Rasullulah.
Kemudian muslimah itu memiliki banyak peran, yang masing-masing peran
itu membutuhkan managemen yang berbeda.
- Sebagai
Anak
- Sebagai
istri
- Sebagai
ibu
- Sebagai
mahasiswa/pegawai/professional
- Sebagai
teman/sahabat
“Mandiri itu bukan berarti harus bisa
segala-galanya dan tidak membutuhkan orang lain. Mandiri itu fleksibel, bisa
dimana saja dan kapan saja dengan luwes dan santun”