Tapi kenyataannya memasak itu merepotkan. Jangan liat program TV yang masak para chef tinggal cemplung2 bahannya loh yaa.. Karena dari persiapannya,mikir menu dan resepnya, ke pasar, nyuci sayuran atau daging, motong-motong, masak, dan membersihkan alat masak, it's not a easy job.
Tapi kenyataanya bagi sebagian orang memasak itu seperti berbuat baik. Berbuat baik itu kadang repot, tapi sebisa mungkin dijalani, bahkan walaupun ada yang ga suka dengan kebaikan yang kita lakukan, harus tetap berbuat baik kan... atau jika memang tidak bisa melakukan kebaikan disuatu tempat, yauda masih banyak tempat yang lain.
Sama seperti memasak, memasak itu repot, tapi sebisa mungkin dijalani apalagi jika alasannya adalah sehat dan hemat, bahkan walaupun ada yang ga suka kita masak atau dengan masakan kita, harus tetap masak kan.. atau jika memang masakan kita tidak disukai karena tidak enak atau apapun itu, yauda masih banyak orang lain yang (semoga) masih mau masak masakan kita.
Walaupun merepotkan, tapi jika seseorang sudah sangat mencintai dunia masak, maka istirahatnya adalah saat memasak dan kebahagiannya adalah saat ada orang lain menghargai dan menikmati masakannya. sama seperti berbuat baikkan, istirahatnya adalah saat berbuat kebaikan yang lebih, dan kebahagiaannya adalah saat banyak orang merasakan perbuatan baiknya.
Long life learning, karena setiap warna dalam hidup ada hikmah yang harus terus dipelajari menuju kebijaksanaan diri. Enjoy the life~
Friday, 28 February 2014
Monday, 2 December 2013
Ibu
"Presiden SBY dan Ibu Ani membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Meskipun dalam kondisi keuangan pas-pasan, Pak SBY dan Ibu Ani selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. Pada saat Pak SBY menjabat sebagai Komandan Batalyon, saat itu ia mendapat jatah makanan tambahan berupa satu cangkir bubur kacang hijau dari kantor. Pak SBY tidak menyantapnya di kantor, melainkan disimpan untuk dibawa pulang. Sampai di rumah, diberikan kepada Ibu Ani untuk diolah kembali dengan menambahakan santan, gula merah dan pandan agar jumlah bubur kacang hijau semakin banyak dan bisa disantap bersama keluarga."
dan juga banyak orang tua yang lain melakukan hal yang serupa, termasuk ibu saya yang suka bawa pulang makanan arisan bahkan kondangan. cuma untuk anaknya dirumah.
dan juga banyak orang tua yang lain melakukan hal yang serupa, termasuk ibu saya yang suka bawa pulang makanan arisan bahkan kondangan. cuma untuk anaknya dirumah.
waktu kecil saya menyaksikan hal yang paling aneh yang dilakukan ibu saya. Ibu saya menyedot pileknya adik saya. tapi terus kayanya dilepeh. brrr..merinding, geli.
Tapi saya menyadari, Itulah Ibu. hal yang paling menjijikan sekalipun akan dilakukan untuk anaknya. Dan saya juga menyadari, itulah Cinta. sesungguhnya cinta.
Bagi saya, itulah hari ibu, dan setiap hari adalah hari Ibu. Karna setiap hari seorang Ibu pasti mengerjakan sesuatu untuk anaknya, minimal mendoakan anaknya.
Semoga Allah memampukan kita untuk berterima kasih kepada Ibu kita, walaupun tak akan terbayar oleh apapun juga. Minimal mendoakan, mengunjungi, memberi hadiah sederhana, atau menanyakan kabarnya dikala jauh.
![]() | |||
| Saya, Ibu, dan suami @ wonogiri, 141113 |
Oya, Ibu saya namanya Umi Barokah, dan suami saya Rohmad Suryadi. Waktu saya mau menikah ataupun setelah menikah banyak kerabat yang mendoakan semoga pernikahannya penuh Rahmat dan Barokah..aamiin. Kemudian saya langsung inget ini kan 2 orang paling berarti dalam hidup saya :) hegheg
Dan saya bertekad untuk memastikan kalau suami saya harus terus berbakti pada orang tuanya, terutama Ibu-nya. Karena bagaimanapun anak laki-laki akan menjadi milik Ibunya selamanya.. Bukankah ia seperti sekarang Ini karena hasil sentuhan Ibunya sjak dalam kandungan? Bukankah besok pun kita akan menjadi seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi suami seseorang? Bahkan seorang suami harus mendahulukan Ibunya baru kemudian Istrinya..
dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah manusia yang paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya." (HR. al-Hakim)
dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia
yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya."
(HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif
al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212, beliau mengingkari penghasanan hadits
tersebut oleh al-Mundziri)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2012/10/02/20962/taat-kepada-suami-harus-didahulukan-daripada-orang-tua/#sthash.8noV0OuK.dpufAku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya." (HR. al-Hakim)
dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia
yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya."
(HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif
al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212, beliau mengingkari penghasanan hadits
tersebut oleh al-Mundziri)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2012/10/02/20962/taat-kepada-suami-harus-didahulukan-daripada-orang-tua/#sthash.8noV0OuK.dpuf
dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia
yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya."
(HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif
al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212, beliau mengingkari penghasanan hadits
tersebut oleh al-Mundziri)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2012/10/02/20962/taat-kepada-suami-harus-didahulukan-daripada-orang-tua/#sthash.8noV0OuK.dpuf"Suami yang mencintai Ibunya baru kemudian mencintai Istrinya adalah suami yang kecintaannya pada Tuhannya amatlah besar. Bukankah ketika seseorang itu mencintai Tuhannya, maka ia akan menjadi seseorang yang akan berusaha menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Tidak ada alasan untuk khawatir menjadi Istri yang tidak dicintai dari seorang suami yang sholeh bukan? Itu suami idaman menurut saya :,)"
Maka supportlah suami anda untuk berbakti pada orang tuanya, minimal
mengingatkannya untuk mengunjungi Ibunya. Dan semoga, keridhoan seorang
Ibu terhadap kehidupannya anaknya menjadi barokah untuk keluarga anda
juga. Karena banyak cerita seorang anak yang sukses karena kedekatannya dengan Ibunya :)
Waktu itu saya pernah dinasihati oleh kerabat saya kalau menikah adalah salah satu kunci rizki. Maka menikahlah maka kuncinya akan terbuka. dan Kunci yang lain adalah doa orang tua. Maka, dukunglah suami anda berbakti pada orang tuanya, maka ridho orang tuanya terutama ibu nya akan memudahkan langkah kaki suami anda membuka pintu rizki itu. Rizki itu gak sekedar materi loh ya, punya anak sehat yang nurut-nurut, kita nya juga sehat, bisa beraktivitas dan bermanfaat untuk banyak orang, terus keluarga harmonis sakinah ma waddah wa rohmah juga termasuk rizki kan? dan itu adalah rizki yang teramat sangat besar. Insyaallah :)
Ohiya, mensuport suami untuk mengunjungi orang tuanya mungkin tidak sebatas pada "menyuruh" atau "menyarankan". Tapi juga memasukan anggaran mengunjungi orang tua ke dalam anggaran keuangan keluarga. Kalau belum punya anak mungkin masih terasa ringan, tapi kalau sudah punya anak dan kebutuhan semakin banyak mungkin agak berat. Apalagi kalau jaraknya antar pulau atau anat negara. Need more cost kan? Saya belum mengalaminya sih, tapi saya mengamati lingkungan sekitar. Doakan ya, semoga Allah memampukan saya dan suami untuk bisa berbakti pada orang tua kami baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, Aamiin.
Ohiya, mensuport suami untuk mengunjungi orang tuanya mungkin tidak sebatas pada "menyuruh" atau "menyarankan". Tapi juga memasukan anggaran mengunjungi orang tua ke dalam anggaran keuangan keluarga. Kalau belum punya anak mungkin masih terasa ringan, tapi kalau sudah punya anak dan kebutuhan semakin banyak mungkin agak berat. Apalagi kalau jaraknya antar pulau atau anat negara. Need more cost kan? Saya belum mengalaminya sih, tapi saya mengamati lingkungan sekitar. Doakan ya, semoga Allah memampukan saya dan suami untuk bisa berbakti pada orang tua kami baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, Aamiin.
Saturday, 30 November 2013
piknik
"Pikinik itu tidak harus di lokasi yang nyaman, jauh, atau dengan bekal makanan yang mahal atau enak, Karena yang terpenting adalah kebersamaannya. Dan itu lebih mahal dari apapun juga, tak terbayarkan"
![]() |
| 24112013, @taman kota manahan, solo. cuma 15 menit dari rumah :) sama Ibu, adik, keponakan, and suami ofcourse |
![]() |
| 25112013, @alun2 solo, 30 menit dari rumah :D |
![]() |
| cukup beli jagung rebus dan bakso bakar.. |
Produktif
Parameter seseorang dikatakan produktif adalah:
Misalnya, saat seseorang menjadi anak dan mahasiswa. Maka tingkat produktifitas nya adalah dia harus menunjukkan baktinya pada orang tua, misalnya berprestasi atau bahkan rajin mencuci piring tanpa disuruh. Jadi, jika seseorang bertambha status nya menjadi anak, mahasiswa, istri, ibu, maka bisa dilist, apa saja hal yag harus ia lakukan sebagai bentuk produktifitasnya baik didalam rumah ataupun dimasyarakat.
Jika kegiatan 'produksi' tidak terbiasa dilakukan sejak lajang, maka saat ia telah menikah kemungkinan ia bisa shock culture, gagap, bingung, and don't know what can she do? efeknya, hari-harinya membosankan atau kemungkinan hanya akan melakukan hal-hal yang kurang produktif.
Nb: Bukan berarti menonton film korea tidak produktif. Jika dengan menonton film korea dia mendapat banyak inspirasi tentang benda kreasi khas korea, kemudian mempelajarinya, membuatnya, dan menjualnya, bahkan menuliskan apa yang dia dapat dan bida dilakukan sehingga banyak orang lain bisa belajar, maka itu bisa dikatakan produktif bukan?
- waktunya digunakan untuk hal-hal yang positif
- Menghasilkan suatu karya
- bermanfaat untuk orang lain
- Menghasilkan, baik dalam bentuk ekonomis ataupun apresiasi
- dilakukan dengan bahagia
- Tidak berniat produktif
- Kurang kreatif karena kurang ilmu dan jaringan
- Lingkungan yang mendukung untuk bermalas-malasan
- Bisa jadi karena sedang sakit baik fisik ataupun psikis
Misalnya, saat seseorang menjadi anak dan mahasiswa. Maka tingkat produktifitas nya adalah dia harus menunjukkan baktinya pada orang tua, misalnya berprestasi atau bahkan rajin mencuci piring tanpa disuruh. Jadi, jika seseorang bertambha status nya menjadi anak, mahasiswa, istri, ibu, maka bisa dilist, apa saja hal yag harus ia lakukan sebagai bentuk produktifitasnya baik didalam rumah ataupun dimasyarakat.
Jika kegiatan 'produksi' tidak terbiasa dilakukan sejak lajang, maka saat ia telah menikah kemungkinan ia bisa shock culture, gagap, bingung, and don't know what can she do? efeknya, hari-harinya membosankan atau kemungkinan hanya akan melakukan hal-hal yang kurang produktif.
Nb: Bukan berarti menonton film korea tidak produktif. Jika dengan menonton film korea dia mendapat banyak inspirasi tentang benda kreasi khas korea, kemudian mempelajarinya, membuatnya, dan menjualnya, bahkan menuliskan apa yang dia dapat dan bida dilakukan sehingga banyak orang lain bisa belajar, maka itu bisa dikatakan produktif bukan?
Thursday, 28 November 2013
Lajang anti galau??*
Judul diatas adalah tema materi sekolah Pra nikah KPPA Benih untuk sesi ke -4 bulan pertama. Dan tema itu mendaulat saya menjadi pembicaranya insyaalah, besok minggu, 1 desmber 2013. Wattss?? manten baru jadi pembicara SPN? oke, ini tantangan atau mungkin lebih tepatnya pembuktian hasil kontemplasi waktu lajang sering galau atau suka galau. hehe, ((sama aja :D. ))
Jadi, paket sekolah pra nikah KPPA Benih adalah 3 bulan dimana bulan pertama adalah 'Rethinking ur marriage', bulan ke dua 'how to be good wife', dan bulan ke tiga 'how to be good mom'. Tapi, Sekolah praikah ini tidak menjamin pesertanya akan jadi the perfect wife and mom. Ini cuma bagian dari usaha-effort-ikhtiar, karena yang namanya jadi istri dan jadi ibu adalah kuliah seumur hidup. Mata kuliahnya adalah semua yang terjadi sehari-hari. Banyak Banget. Bahkan kalau jadi judul penelitian bisa jadi berbendel-bendel. Parameter keberhasilan jangka pendeknya adalah apakah hari itu berhasil bersabar dan bersyukur. dan parameter jangka panjangnya? Surga.. Nilainya, wallahualam, transkripnya nanti baru bisa dilihat di akhirat, setelah di wisuda jadi almarhumah.. Semoga kita semua khusnul khotimah dan meninggalkan generasi-generasi yang khusnul khotimah juga yaa..aamiinn.
Oke, kelihatannya menyenangkan ya beraktifitas jadi istri dan Ibu? Hari-hari dipenuhi canda tawa anak-anak yang lucu dan suami yang menyayangi sepenuh hati dan suka ngasih kejutan mawar dipagi hari lengkap dengan kecupannya yang hangat. makanya, wajar kan kalau yang belum menikah (lajang) jadi galau gara-gara belum nikah2? Oke sepakat. itu wajar. fitrah. Tapi kalau yang dibayangkan jadi istri dan ibu seperti yang diatas itu namanya nonton sinetron itupun kalau tidak ada peran mertua yang jahat dan suka ngasih racun ke minuman menantunya yang lagi hamil biar menantunya keguguran, gak bisa ngasih keturunan terus anaknya ada alasan nikah lagi sama perempuan pilihan ibunya yang lebih cantik dan lebih kaya. Sinetron banget kan.. :D
Berarti, Galau itu boleh ya? kalau menurut saya iya. Boleh banget. Malah, saya kurang begitu sepakat kalau jadi anti galau. terlalu berat, karena itu melawan fitrah. Sama halnya dengan kalau haus anti minum. bahaya.. atau kaya iklan provider yang jinggle nya anti lelet. Kenyataannya bisa lelet juga kan apalagi kalau hujan :D jadi bohong ya iklannya? makanya jangan bohong pun dalam hal galau. Kalau memang galau, akui saja kalau sedang galau. Karena solusi di awal itu adalah saat kita menyadari kalau kita sedang bermasalah(galau), kemudian tau apa sih masalahnya, dan setelah itu otomatis akan mudah cari solusinya?. Insyaallah galaunya tidak akan berkepanjangan, Malah bisa jadi tambah pinter dan tambah Sholehah. :)
Pertama, galau itu fitrah. wajar. normal. karena kita manusia, bukan malaikat. Galau itu gelisah, sedih, marah, sebel, bahkan bingung apa yang sebenarnya terjadi. dan itu semua bagian dari rasa, perasaan, sama halnya dengan senang, bahagia. Saya bukan ahli siroh, tapi yang saya ingat Rasulluloh pernah sedih saat mengingat akan jumlah umatnya kelak yang seperti buih dilautan, atau Umar RA juga pernah sedih waktu ingat pernah membunuh anak perempuannya. Well, galau mereka elit, substansif. tapi level apapun galau itu intinya sama. galau itu wajar dan normal.
Kedua, galau itu jadi wajar kalau pas galau itu baik-baik aja bahkan setelah galau jadi sehat dan bahagia. dan jadi ga wajar kalau gara-gara galau bisa sampai bikin heboh satu rumah atau satu RT gara-gara harus telepon ambulance untuk dibawa ke IGD entah itu IGD RSUD gara-gara muntah-muntah parah karena asam lambung yang meningkat drastisss atau IGD RSJ gara-gara bikin ulah ngisengin orang sekampung tanpa alasan yang jelas. (jangan sampai ya..)
Ketiga, Jadi jelas ya, kenapa boleh galau? asal untuk kontemplasi, evaluasi, muhasabah, biar bisa lebih baik. Dan pastinya tidak berkepanjangan.
And then, kalau lajang galau? saya pernah, sering mungkin. banyak faktor dan alasan. kadang karena teman-teman seangkatan sudah menikah dan punya anak, atau karena ada ikhwan yang terdeteksi PHP :D, atau karena ikhwan yang kita idam-idamkan selama ini menikah dengan teman sendiri :'( , atau karena teman2 sudah pada lulus, bekerja, berprestasi, dan saya masih sibuk ini itu. tapi saya bersyukur..bersabar karenanya, dan berikhtiar lebih karena pacuannya.
- Jujur dan akuilah jika kamu sedang galau. cari penyebabnya, bisa karena PMS, kecapekan, laper, atau mungkin cuma haus. Atau bisa juga karena faktor psikis entah internal atau eksternal.kalau sudah tahu penyebabnya, langsung cari solusinya. jangan lama-lama apalagi sampai terlarut-larut. Move on, guys :)
- Kita tau apa yang terbaik untuk kita sendiri. Tulislah apa yag dirasakan entah menulis dengan gaya apa adanya atau tersirat. entah hanya menulis masalahnya atau menambahkannya dengan catatan hikmah. entah disimpan dalam folder pribadi atau diupload di sosial media. You are what you do :) dan ini soal image > penting.
- atau ceritakanlah pada orang yang dipercaya, bukan ke semua orang. yang ada orang jadi ga simpati gara-gara aneh melihat kelakuan kita yang suka mengeluh kesana-kemari. Carilah orang yang memang sudah memahami kita atau mungkin dia bisa memberikan solusi. (bagi kebanyakan perempuan, bercerita adalah 1/2 langkah dari penyelesaian masalah)
- galau itu biasanya karena banyak waktu luang, soalnya kalau banyak agenda jadi ga sempet galau, sudah kecapekan..hehe maka, kalau luang, cari aktivitas atau hobby yang menyenangkan dan sangat ingin kamu lakukan. Merajut, memasak, menjahit, menulis, melukis, jalan-jalan atau beres-beres rumah. berilah kepada kerabat apa yang kita kerjakan, karena saat kita semangat memberi ke orang lain, saat itulah energi negatif beralih menjadi energi positif. Karena hukum energi tidak dapat dimusnahkan. dia hanya berubah bentuk. sama halnya seperti waktu. jika tidak digunakan untuk hal yang positif maka akan terpakai untuk hal yang negatif. Kalau perlu murojaah, terus direkam, terus rekamannya diberikan kepada teman untuk latihan murojaah.. subhanallah.. yang pastilah lakukanlah yang bermanfaat dan berikanlah ke orang lain.
- Ikut KPPA Benih, hehe.. rajin dateng ke SIMAK biar dapet ilmu parenting. bekal buat pasca nikah, jadi setelah nikah ga sempet galau gara-gara uda nabung ilmu. Atau ikut komunitas-komunitas bakat yang lain karena disana biasanya ada sharing ilmu dan karya, bahkan akan saling mengapresiasi. Dunia ini tidak sesempit yang dibayangkan :D
- Selamat bergalau. manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk menggalau mumpung masih lajang. Tapi galaunya yang produktif, biar terlatih dan teruji untuk mengubah galau menjadi karya manfaat. Karena, Setelah menikah banyak faktor yang lebih bikin galau. Jadi kalau tidak terbiasa mengendalikan si galau sejak dini nanti bisa jadi istri yang tidak oke dan jadi ibu yang tidak menyenangkan karena suami dan anak-anaknya jadi repot dan malu punya istri /ibu yang hobinya hening bahkan heboh gara-gara galau yang berkepanjangan.
- dan terakhir yang terpenting, berdoalah dan bertawakkallah. semoga kegalauanmu menambah keimanan mu pada-nya. dan itu adalah galau yang barokah. bersyukurlah. :)
"do the best what you can do now, karena percayalah apa yang kamu lakukan sekarang, sesungguhnya juga sedang ia lakukan sekarang. entah siapapun ia, entah dimanapun ia. Jadi berfokuslah pada apa yang kamu lakukan bukan pada-siapanya. karena ia yang milikmu adalah ia yang akan datang saat kamu sedang berada dikondisi yang terbaik. "
*ditulis untuk disampaikan dalam Sekolah Pranikah KPPA Benih, Insyaallah Minggu 1 desember 2013
* Nunik Nurhayati, Sekretaris KPPA Benih
Subscribe to:
Comments (Atom)




