Friday, 5 May 2017

Sinergi Sekolah dan Keluarga Kunci Keberhasilan Pendidikan Karakter



Bertepatan dengan Hari Pendidikan pada tanggal 2 Mei 2017 yang lalu, saya mencoba melakukan refleksi terhadap pendidikan kita. Dimana dalam beberapa waktu terakhir, telah digulirkan program pendidikan karakter melalui kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Muhadjir Effendi  melalui kebijakan sekolah sehari penuh (full day school). Sampai saat ini sudah beberapa sekolah negeri yang telah memulai untuk menerapkannya.

Namun, ada juga suara - suara sumbang yang pesimis terhadap keberhasilan kebijakan itu dengan alasan pihak sekolah yang dianggap tidak siap. Selain itu, muncul pertanyaan apabila fullday school diterapkan bagaimana peran orang tua dalam pendidikan karakter anak? siapakah penanggungjawab utama pendidikan karakter sebenarnya?

Pihak yang merasa pesimis dengan keberhasilan kebijakan ini, umumnya adalah karena penilaian terhadap guru yang dianggap belum mampu menerapkan manajemen pendidikan yang baik di sekolah. Pada sisi lain, ada ketidakpercayaan diri dari seorang tenaga pendidik. Bisa jadi ketidakpercayaan diri itu muncul karena belum terinternalisasi standar moral pendidik untuk mempunyai kapasitas guru sebagai sosok yang isa digugu lan ditiru. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara.

Selain pada sisi tenaga pendidik yang harus menjadi garda terdepan di dalam proses pendidikan karakter di sekolah. Menurut Mohammad Ali (2017), seorang pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menuturkan tuntutan peran sekolah harus semakin profesional dan terencana karena full day school bukan sekedar tambah jam pelajaran. Akan tetapi juga perlu energi tambahan bagi pendidiknya terutama kepala sekolah dan guru untuk menjadi teladan utama di dalam proses pendidikan karakter.

Saya sepenuhnya sepakat dengan pendapat tersebut. Namun, sepertinya ada sisi yang terlewat di dalam mengungkap kunci keberhasilan pendidikan karakter tersebut yaitu sinergi antar institusi  lembaga sekolah dengan lembaga inti yaitu keluarga. Secara sosiologis, keluarga adalah lembaga primer atau inti dalam proses pendidikan karakter anak, sementara sekolah adalah lembaga kedua.  Kebijakan full day school tidak kemudian otomatis menggantikan secara penuh peran orang tua siswa di dalam mendidik anaknya dengan akhlak mulia di keluarga. Oleh karenanya, membebankan sepenuhnya tanggungjawab pendidikan karakter kepada institusi sekolah tentu tidak sepenuhnya bisa diterima. Meskipun secara waktu anak lebih banyak yang dihabiskan di sekolah daripada di rumah.

Untuk sekolah negeri yang akan menerapkan full day school tak ada salahnya untuk saling belajar kepada sekolah yang lebih dulu menerapkan metode ini untuk penerapan pendidikan karakter. Bolehlah saya mengambil ilustrasi singkat tentang bagaimana keberhasilan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Nur Hidayah Surakarta, sebuah sekolah swasta Islam yang telah menerapkan full day school sejak berdirinya sampai saat ini. Dengan hasil pendidikan karakter yang relatif berhasil dan selalu masuk tiga besar tingkat Kota Solo dalam hal prestasi belajar siswanya. Bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden Jokowi.

Di sekolah yang menerapkan sekolah seharian penuh tersebut keberhasilan yang diraihnya ternyata bukan semata – mata peran pendidik di sekolah. Akan tetapi, karena adanya sinergi antara institusi sekolah dengan institusi keluarga yang dapat berjalan seiring sepemahaman melalui pernak pernik program kegiatan yang disusun secara bersama. Itulah yang menjadi faktor kuncinya. Di sini tak hanya anak yang sekolah, orang tuanya pun ikut “sekolah” dan harus rela sedikit repot dengan berbagai urusan pendidikan anaknya. Pertemuan orang tua melalui Forum Orang Tua Murid Guru (FOMG) rutin diagendakan tiap bulan sebagai sarana komunikasi, bahkan Grup Orang Tua dan Guru Wali Kelas di media online tiap hari tidak ada istirahatnya. Melalui media itu dilakukan diskusi intensif parenting, juga perkembangan pendidikan anak, permasalahan dan mencari solusi bersama.

Kenapa perlu sinergi kedua institusi pembentuk karakter anak ini? Karena zaman kita saat kecil masih sekolah dengan zaman anak kita saat ini jauh berbeda dengan segala tantangannya. Saat ini kita menghadapi tantangan zaman teknologi informasi yang demikian canggih dan menjadikan pola pendidikan juga harus menyesuaikan perkembangannya. Kondisi berbeda manakala kita saat sekolah dulu di era 80 – 90an atau jauh sebelum itu, saat itu pola pergaulan yang konvensional dan tradisional menandai suasana keseharian. Kala itu, institusi sekolah menjadi utama dalam membangun karakter anak. Sekolah benar – benar menjadi mandiri dan independen lantaran orang tua sepenuhnya menyerahkan anaknya untuk dididik dan diajar selama setengah hari, sisanya di rumah menjadi tanggung jawab penuh orang tua. Sementara orang tua datang ke sekolah saat tertentu saja, mengambil raport atau rapat orang tua wali murid dalam penetapan SPP dan kemudian mengambil ijazah. Meski, ada juga orang tua yang sering dipanggil ke sekolah oleh Guru Bimbingan Konseling apabila anaknya bermasalah dengan pelanggaran aturan sekolah.


Lain zaman lain tantangan. Berbeda kondisi saat ini, derasnya arus teknologi informasi, kontrol terhadap anak dari orang tua harus semakin meningkat dan intensif. Kemudian tantangan itu berusaha dijawab dengan ikhtiar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk sekolah menjalankan full day school. Tujuannya adalah mengurangi  dampak negatif pergaulan luar sekolah di era digitalisasi teknologi informasi dan meningkatnya kesibukan orang tua yang bekerja di luar rumah.  Namun, sekali lagi sekolah seharian penuh bukanlah untuk mereduksi peran orang tua yang sibuk bekerja di dalam mendidik anak. Melainkan upaya untuk menambah kesibukan orang tua untuk terlibat secara aktif mendidik anak secara full day juga sehingga dengan sinergi institusi keluarga dan sekolah, pendidikan karakter itu terwujud pada diri anak Indonesia. Semoga.

Selamat HAri Pendidikan Nasional 2017.

Nunik Nurhayati, SH, MH
Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (FH UMS) , Pegiat di Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih Solo

Tuesday, 25 April 2017

Kartini Muda Transmart Carrefour; Tak Hanya Pandai Melayani Tapi Juga Memberi


Para Kartini Muda Transmart Carrefour  Foto dari FB Carrefour Indonesia


Memasuki Bulan April ketika saya berbelanja kebutuhan di Carrefour. Seperti biasa di bulan April ini selalu diwarnai dengan gegap gempita perayaan Hari Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Nah, saat jalan saya menemukan pengumuman Blog Writing Kartini Muda yang diadakan Carrefour. Oleh karenanya, saya tertarik untuk menuliskan bagaimana Kartini Muda Transmart Carrefour itu. Apalagi sebagian besar yang pramuniaga yang melayani pembeli di Carrefour sebagian besarnya  adalah kaum perempuan generasi Ibu Kita Kartini. Merekalah Kartini Kartini muda yang akan menjadi sasaran objek pengamatan dan tema penulisan saya kali ini.
Hasil refleksi saya tentang sosok  Kartini Muda Transmart Carrefour itu adalah sosok Kartini Muda yang ideal lantaran pastinya mereka mempunyai peran seorang wanita yang bekerja di ranah publik (dalam supermarket Carefour) sekaligus sebagian adalah seorang istri dan ibu yang harus memegang peran di ranah domestik (dalam rumah tangga). Tanpa harus meninggalkan keduanya atau mengesampingkan satu sama lain. Demikianlah ajaran Ibu Kita Kartini sebenarnya. Dimana perjuangannya untuk memajukan perempuan timur lantaran kekagumannya terhadap perempuan barat yang berpendidikan kemudian tidak melepaskan jati diri sebagai seorang perempuan Indonesia yang menjunjung tinggi  tradisi dan adat istiadatnya. Bisa dilihat, dalam sejarahnya Kartini menikah sebagai seorang istri yang melayani suami tetapi juga mempunyai peran di masyarakat secara nyata.  Begitu juga dengan para Kartini muda Transmart Carrefour yang saya kenal. Kedua peran untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pembeli itu ternyata dibarengi dengan semangat memberi kasih sayang yang sangat besar kepada keluarganya di rumah terutama untuk pendidikan anaknya.
Dalam sejarah hidup Ibu Kita Kartini memang tidak ditemukan bagaimana beliau memberikan kasih sayang dan mendidik anak dalam keluarga. Karena empat hari setelah melahirkan anak pertamanya, RM Soesalit beliau wafat di usia yang sangat muda 25 tahun pada tanggal 17 September 1904. Namun, apabila kita menelisik isi surat-surat Kartini bisa dilacak bagaimana perhatian Kartini terhadap keluarga. Dalam surat Kartini yang dikirimkan kepada Prof Anton dan istrinya pada 4 Oktober 1902, -atau sekitar dua tahun sebelum beliau wafat- Kartini menuliskan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya;menjadi ibu, pendidik manusia pertama”
Dengan adanya fakta adanya surat ini menunjukan bagaimana Ibu Kita Kartini ingin para wanita yang akan menjadi seorang istri dari seorang suami dan ibu dari anak-anaknya menjadi berpengetahuan dan menjadi guru. Sebagaimana perjuangan Kartini menjadi guru dalam arti yang sebenarnya dengan mendirikan sekolah dan mengajarkan ilmu kepada anak-anak perempuan yang pertama di Nusantara. Kemudian mendidik para perempuan itu yang nantinya akan menjadi guru dalam arti sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya di dalam rumah. Kemudian juga menjadi perempuan pekerja yang cerdas sebagaimana saya menemukan para Kartini Muda di Transmart Carrefour Solo ini.
            Bagaimana Kartini Muda di Transmart Carrefour Solo ini cakap menjadi pramuniaga, menjadi guide bagi para customer adalah buah dari perjuangannya melalui pendidikan yang diraihnya untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan etika yang baik.  Hal ini sejalan dengan perannya sebagai seorang ibu yang mengajarkan pendidikan bagi anaknya yaitu pertama dan utama adalah peran dalam mengajarkan ilmu untuk anak-anaknya. Karena ibu sebagai “madrasah” (sekolah) pertama sebagaimana isi surat di atas,”... agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya;menjadi ibu, pendidik manusia pertama” dan pendidikan ketrampilan yang akan menjadi modal dan bekal menyongsong masa depan anak adalah dengan membaca dan menulis. Anak tidak hanya penting untuk diajarkan untuk membaca karena itu adalah sumber keilmuan yang utama. Namun, juga menuliskan gagasan-gagasannya mengenai berbagai hal. Baik itu catatan dalam urusan keluarga, juga catatan-catatan ide besar untuk memajukan masyarakat dan dunianya.
Dan keyakinan kuat saya itu pasti bisa dilakukan oleh para Kartini Muda Transmart Carrefour karena kecakapan yang mereka miliki dalam urusan catat dan mencatat berbagai kebutuhan para customernya. Bahkan tidak hanya mencatatnya tetai juga selalu hafal dimana letak barang kebutuhan para customer. Sehingga ketika ditanya dimana letak barang A misalnya. Maka merekapun diiringi dengan senyuman manis akan memberikan  jawaban yang cepat dan tepat. Juga ketika saya bertanya mengenai kualitas dan harga suatu barang yang akan dibeli, pasti dijawab dengan bernas dan cerdas. Sehingga para customer seperti mendapatkan “bimbingan” dari para guru Kartini Muda Transmart Carrefour untuk memilih barang kebutuhan yang tepat bagi keluarganya.  Sebagaimana pengalaman yang selalu saya temui ketika belanja di Carrefour. Mereka adalah para Kartini Muda yang tidak hanya bisa melayani tetapi juga bisa memberikan solusi terbaik bagi para customernya dan juga kepada keluarganya.
Sekali lagi, Ibu Kita Kartini telah menuliskan sejarahnya dan dapat diambil pelajaran untuk kita semuanya. Pelajaran yang dapat dipetik oleh para perempuan sebagai bekal menjadi wanita profesional sekaligus bekal membina anak-anak yang akan menjadi penerus cita-cita pejuang bangsa. Semoga, para Kartini Muda Transmart Carrefour mampu mengukir sejarahnya masing-masing dengan menjadi pramuniaga yang profesional sehingga menjadi “guru” bagi para customer juga sebagai guru bagi anak-anaknya sehingga pada akhirnya menjadi soko guru peradaban manusia. Amin

 Ditulis Oleh: Nunik Nurhayati  (Member Carrefour, Seorang istri dan  Ibu dari dua orang putri, relawan Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih Surakarta)
Foto diambil dari  FB Carrefour Indonesia


REMAJA SUPER TANGGUNG





3hr berturut-turut ini alhamdullilah sy bisa makan siang drumah sambil menyuapi anak2. Seperti siang ini, selepas anak2 makan siang dan berenang mereka pun tertidur.. jadilah siang ini sy bisa sedikit santai di teras sambil meminum secangkir kopi susu hangat dan roti tawar (sebelum menguras kamar mandi) :p
Tiba2 sy melihat fenomena masa kini #halah :D. Di pagar rumah sy ada layangan hasil temuan Alma yg di gantung begitu saja. Ternyata setelah sy amati, layangan itu gambarnya si boy anak jalanan yg sinetron nya berhasil mendapat protes ibu2 se-Indonesia gara2 sangat tidak mendidik. Ternyata layangan pun branding nya si boy ini. Oalah boy..Boy... Sesuk kalo sdh jadi bapak semoga tersadar ya, minimal jangan didik anak2 nya seperti bapaknya di sinetron (well, ternyata banyak artis yg malah melarang anaknya nonton tv channels Indonesia terutama sinetron2 nya).
Dan pandangan sy kemudian beralih ke anak2 remaja tanggung di balik layang2 si boy. Super tanggung nya mereka Krn usia mereka yg baru mau lulus SD, sembari denger lagu2 dewasa bernuansa percintaan, mereka Lg sibuk sesi pemotretan sambil nata2 rambut dan acessoris yg mungkin sebentar Lg hasil seleksi fotonya akan diupload di.media2 sosial. Ada dua anak yg baru masuk SD, hanya bisa mengamati dan mungkin akan meniru kalau ada kesempatan yg sama. Dan sy berfikir, bsk anak2 sy di usia mereka akan beraktifitas apa ya?
Apakah gejala anak2 seperti itu membahayakan masa depan mereka? Semoga sj tidak, asal ada pendampingan yg intensif dan efektif Dr para org tua. Terkadang banyak orang tua yg fokus pada perkembangan anak2 di usia 5 tahun pertama. Usia masuk sekolah apalagi mulai remaja, seolah2 banyak org tua yg merasa yakin bahwa anak2 nya bisa "menjaga diri" dengan baik. Padahal, usia remaja adalah masa paling menggebu dimana anak2 sdh mulai berani mencoba banyak hal tp belum diimbangi dengan "akal" yg mumpuni sehingga belum tau apakah ini baik atau tidak, boleh atau tdk utk.dilakukan.
Alhamdullilah, Kppa Benih yg merupakan LSM di solo yg fokus pada anak2 dan perempuan tidak hanya sibuk mempersiapkan sekolah pra-nikah atau sekolah intensif mengasuh anak. Tp tanggal 29 april juga akan mengadakan seminar Akil baligh utk mempersiapkan. Para org tua menyiapkan generasi cerdas, shalihah, dan bertanggung jawab di usia remaja mereka.
Informasi lebih lanjut bisa di klik gambar dibawah ini ya. Ikut acara nya insyaallah kita para orang tua bs siap mendidik anak2 di usia remaja. Jika sy sebagai org tua, anda juga, dan kita semua memiliki pemahaman yg sama soal menyelematkan anak2 kita agar memiliki masa depan yg baik, insyaallah anak2 kita akan bermain dengan anak2 yg "aman" juga. Krn mereka mudah terpengaruh pada lingkungan dan lingkungan pertama mereka adalah dirumah.
Sepertinya itu dulu, hasil santai2 saya di teras rumah. Next nyikat kamar mandi sebelum dua balita aktif bangun dan lari sana sini. :)
Selamat liburan, selamat beberes rumah. :)



Wednesday, 30 November 2016

Resensi Buku “Seberapa Berani Anda Membela Islam?” Karya Na’im Yusuf (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2016)


“Seberapa Berani Anda Membela Islam?” Na’im Yusuf bertanya melalui judul bukunya. Dari judul ini sekilas baca akan menggelitik naluri pembaca untuk menyelami samudra makna, apa maksud dari pertanyaan itu? Sekaligus memberikan ruang perenungan, introspeksi kepada pembaca sebagai pertanyaan retorika yang tidak membutuhkan jawaban karena masing-masing pembaca akan memiliki jawabannya masing - masing yang berbeda - beda. Sehingga dengan begitu, akan menarik diri pembaca untuk kemudian menyamakan persepsi apa jawaban tepatnya, dengan menyelesaikan membaca secara utuh dan tuntas buku ini.

Setelah menyelaminya secara seksama secara garis besar, dan subjektif penulis resensi, buku ini setidaknya memberikan dua pelajaran utama yaitu tentang makna keberanian dan 13 karakter keberanian yang utama. Serta pelajaran yang bisa dipetik bagi wanita muslimah dan Ilmu Parenting yang bisa dilakukan orang tua muslim untuk menanamkan karakter utama tersebut kepada anak - anaknya.

Makna Keberanian dan 13 Karakter Utama
Na’im Yusuf telah memberikan jawaban-jawaban lugas kepada pembacanya melalui bab demi bab dalam buku ini. Penulis memulai pembahasan awalnya dengan menjelaskan esensi makna sikap berani. Sikap berani yang dalam bahasa Arab disebut Arrajulah secara bahasa memang disematkan kepada sifat kelelakian, namun sikap pemberani tidak identik dengan laki-laki saja namun juga kepada wanita. Tidak hendak menyamakan antara laki-laki dan wanita sebagaimana kampanye kesetaraan gender paham feminisme barat, karena memang secara kodrati, fitrah keduanya berbeda. Akan tetapi, dalam segi ilmu dan wawasan, keserupaan laki-laki dan wanita itu adalah hal baik. Dalam bahasa Arab ada ungkapan imra’atun rajulah, yaitu wanita yang menyerupai laki-laki dalam kemampuan ilmu dan wawasannya. Dalam sebuah hadits Nabi SAW disebutkan, Aisyah adalah wanita yang seperti laki-laki dalam hal berpendapat. (Hal 3). Sampai disini makna berani tidak terbatas pada sifat laki-laki saja, bahkan ada banyak contoh wanita-wanita muslimah yang lebih berprestasi dari laki-laki dalam beberapa posisi sulit. Betapa banyak wanita yang kualitasnya menyerupai seribu laki-laki bahkan lebih. Contoh selain Aisyah adalah para shahabiyah Rasulullah Muhammad SAW; Khadijah, Nasibah bin Ka’ab, Shafiyah binti Abdul Muthalib, Asma’ binti Abu Bakar dan lainnya yang telah memberikan contoh kekokohan iman, ketaqwaan dan keberanian untuk rela berkorban, aktif berbuat untuk kemuliaan Islam dan izzah umatnya.

Sebaliknya, Na’im Yusuf memberikan sebuah ilustrasi, betapa banyak laki-laki yang seperti perempuan lantaran dirinya direndahkan dengan perbuatan memperturutkan hawa nafsu syahwatnya semata. Kemudian penulis mengutip sebait syair sebagai ungkapan sindirian kepada lelaki tipe lemah seperti itu,
“Mereka menambah beban berat bumi karena banyak jumlahnya.
Tapi mereka tidak beraksi untuk sesuatu yang mulia”

Keberanian bukanlah sekedar kata, keberanian adalah jiwa yang bersemangat dan bergemuruh untuk senantiasa memegang teguh Ajaran Islam dan membela kemuliaannya tatkala dihinakan oleh orang yang memusuhinya. Buku yang dituliskan setebal 288 halaman itu banyak memberikan sebuah gambaran detail mengenai sifat-sifat keberanian, contoh-contoh keberanian dari para salafus sholeh dan karakter-karakter yang harus dipunyai oleh seorang muslim untuk berani membela agamanya.

Setidaknya ada 13 karakter yang harus dimiliki oleh kaum muslimin agar sifat pemberani tertanam kuat dalam dirinya maupun para generasi penerus Islam yang akan datang. Apabila dikategorikan, ketiga belas karakter itu bisa digolongkan ke dalam kategori bentuk sikap berani yang ofensif yang  berguna untuk serangkaian cara mereaksi terhadap musuh yang menghinakan dan melakukan “serangan” balik. Dan kedua adalah kategori defensif (sikap bertahan) sekaligus. Keduanya adalah dimensi sikap yang harus seimbang agar keberanian sikap tidak semata menjadi sikap reaktif yang sporadis. Bukan sekedar berani yang asal berani, namun berani yang ada guidance, panduan yang jelas lagi syar’i.  Sikap ofensif terwujud dalam tujuh karakter seperti “Menyeru ke Jalan Allah”, “Bersungguh-sunguh dan tanggap”, “Bersikap Aktif dan Bertanggungjawab”, “Bercita-cita yang tinggi”, “Berani di Atas Kebenaran”, “Berani”, “Berjihad dan Berkorban”. Sikap berani yang “ofensif” seperti ini sangat tepat untuk kondisi saat ini di saat Islam dinistakan. Dengan cita – cita menjaga kemuliaan agama Allah, semangat berani berjihad dan berkorban bersikap aktif, bersungguh-sungguh menyeru ke jalan Allah harus dibarengi dengan bersikap berani dan bertanggungjawab, tidak melanggar aturan hukum syar’i maupun hukum konstitusi yang berlaku.

Sementara untuk tetap istiqomah, kuat bertahan agar keberanian dalam membela Islam tetap terjaga, diperlukan enam karakter untuk defensif yaitu “Mencintai masjid”, “Mulia dan Terhormat”, “Teguh di Atas Kebenaran”, “Sabar dan Membiasakan Diri”, “Memenuhi Janji dan Jujur pada Allah SWT”, “Tidak Mudah Putus Asa dan Pesimis”. Bagaimanapun jalan untuk menapaki perjuangan meninggikan kalimat Allah dan membelanya tidak selalu mudah dan singkat. Banyak cobaan dan jalan panjang terbentang, maka strategi berani bertahan yang baik adalah mencintai masjid, karena bagaimanapun dari masjidlah semua bermula nilai kemuliaan dan kehormatan, kemudian sikap jujur menepati apa yang dijanjikan kepada Allah sebagai sebuah komitmen, teguh dalam jalan kebenarang, serta sabar dan membiasakan diri dalam kesabaran.Kemudian melawan putus asa dan pesimisme yang kadang menghinggapi jiwa yang lelah dalam menapaki jalan perjuangan adalah pilihan karakter utama untuk tetap tegar dan tidak goyah, gentar mengahdapi serangkaian ujian onak dan duri.

Dari ketiga belas karakter yang dituliskan itu, bisa dikatakan untuk mewujud dalam diri seorang muslim, karakter itu seharusnya tidak hanya menjadi sikap mental psikologis yang bersemayam dalam jiwa semata,akan tetapi juga harus mewujud dalam praksis tindakan atau perbuatan sehari-hari, sebagai amalan yaumiyyah setiap muslim yang mendambakan sifat berani itu tertanam kuat dalam dirinya.

Pelajaran bagi Muslimah dan Ilmu Parenting
Meskipun buku ini memberikan panduan membentuk karakter pemberani kepada semua kaum muslim -baik laki-laki dan perempuan secara umum- serta tidak dikhususkan kepada perempuan muslimah saja. Namun, cita rasa pelajaran untuk perempuan muslimah disajikan secara apik oleh Na’im Yusuf meskipun tidak terlalu banyak dan detail. Beliau menyajikan pelajaran penting untuk perempuan muslimah dalam tiga sub tema, “Sifat Aktif Kaum Wanita”, “Peran Kaum Wanita; Khaulah binti al-Azwar” dan “Jihad Kaum Wanita”
Untuk menekankan betapa pentingnya sifat berani membela Islam ini dan harus dimiliki oleh kaum wanita muslimah, dalam dua sub tema tersebut, penulis sampai dua kali mengutip sebait syair,
“Dan bila para wanita menyembunyikan keberanian dari kita
Maka pasti sudah, wanita lebih mulia dari laki-laki
Dan tidaklah cacat bila matahari itu di-muannats-kan
Dan tidak juga bila bulan itu di-mudzakar-kan

Syair di atas yang dikutip oleh penulis sebagai pesan berharga untuk kaum wanita muslimah. Dimana dalam penjelasannya (Hal 75) disebutkan, matahari dalam bahasa Arab disebut Syam, dan bulan disebut dengan Qomar. Dalam tata bahasa Arab, kata Syam disebut muannats (perempuan), dan Qomar disebut mudzakar (laki-laki). Secara logika, matahari lebih besar daripada bulan dengan begitu, metafora ini memberikan gambaran bagaimana seorang wanita muslimah mampu menjadi matahari yang lebih besar dan memberikan cahaya penghidupan untuk semesta, dengan satu kata kuncinya, ada keberanian di dalam dirinya.  

Keberanian para muslimah untuk secara aktif berperan dalam jihad fi sabilillah untuk membantu tugas wajib yang dibebankan kepada kaum laki-laki muslim. Secara tidak langsung memberikan penjelasan untuk mematahkan argumen kaum feminisme barat yang mengandaikan bahwa para wanita Islam hanyalah makhluk lemah yang hanya tahu urusan domestik, sibuk di dalam rumah tangga saja atau disebut sebagai konco wingking dalam istilah Jawa. Dengan sifat berani membela Islam yang dicontohkan oleh shahabiyah, Khaulah binti al-Azwar menunjukan bukti sekaligus menuntun para wanita  muslimah tidak hanya berperan di arena publik tetapi lebih jauh dari itu, berlaga dalam arena jihad qital fi sabilillah yang sesungguhnya.

Selain itu, patut dicatat sebuah tugas mulia lagi penting dari para orang tua muslim, terlebih seorang Ibu untuk menanamkan karakter pemberani yang disebutkan di atas kepada anak-anaknya, sebagaimana dicontohkan Shahabiyah Sumaira binti Qais, yang memotivasi, mendorong kedua putranya, An Nu’man bin ‘Amr dan Sulaim bin Harits untuk bergabung bersama Rasulullah berlaga di Uhud, hingga akhirnya Sumaira harus menerima kenyataan dengan lapang dada kedua putranya syahid di medan juang.

Pelajaran ini penting untuk diperhatikan karena dalam ilmu parenting di alam modern dengan banyaknya godaan teknologi dan ujian gaya hidup saat ini, banyak kendala yang dihadapi orang tua untuk memotivasi anaknya memiliki daya juang tinggi dengan kerelaan berkorban yang tinggi untuk meraih cita-cita yang mulia. Maka sangat relevan di akhir bab buku ini juga disampaikan ilmu parenting khas Islam, bagaimana para nabi menanamkan sifat optimisme dan melawan sikap pesimisme, ke-putus asa-an kepada anak-anaknya. Sikap tidak mudah berputus asa dan mampu menjadi pribadi-pribadi yang siap berjuang dan membela agamanya sangat ditekankan sebagaimana kata Nabi Ya’qub yang banyak mendapatkan cobaan dari Allah, mengungkapkan pesan indah kepada anak-anaknya, “Jangan pernah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87)

Akhirnya, kembali ke pertanyaan awal, “Seberapa berani Anda Membela Islam?” terkhusus kepada wanita muslimah, jawablah dengan berani menyelami setiap makna dalam buku ini secara utuh dan paripurna, kemudian berani mengaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari untuk membela Islam sebagaimana Nabi dan Rasulullah dan para shahabiyah telah membelanya. Sekali lagi, keberanian bukanlah milik lelaki muslimin saja tetap juga milik wanita muslimah. Semoga Allah memberikan kekuatan diri kita meneladani jalan salafus sholeh seperti mereka. Wallahu a’lam bish showwab.

Surakarta, 29 Safar 1438 H
Nunik Nurhayati, SH, MH. Ibu dari dua putri dan pegiat Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih Surakarta.


Foto buku: dari Twitter Uni @FahiraIdris yang mengirimi Buku ini. Terima kasih Uni..

Thursday, 7 May 2015

bisnis oh bisnisss


td ngobrol sama tetangga yang nyetok kroket gandum 1000an di jajan pasar pagi, yg siangnya nyetok di mie ayam, dan sore ga tau nyetok dimana lagi. Setiap hr dia bikin 2kg gandum dengan hasil jadi sekitar 200 kroket.
Kalau dia jual 800, berati sehari dapat 160.000.
Kalau biaya bahan habis sekitar 80.000 sehari, sebulan bs laba 80.000x30, sktr 2.400.000.

Tapiii, bangunnya hrs jam 3 pagi tiap hari, ngadonin, goreng, nyetor, nnt ambil tempat begiru 3x sehari. Dan dia mengerjakan seorang diri, kecuali kalau ad pesanan bnyk baru minta bantuan.

Luar biasa bukan? Belum lagi kalau ada pesenan. Walaupun anak ke3 masih bayi 6 bln

Lebih luar biasa kalau mba ini pny komunitas yg semaikin mengembangkan bisnisnya. Apalagi bisnis yg dijual adl produk yg halal thoyiban. Tp sy yakin sdh bnyk komunitas bisnis baik spt ini. Bahkan sering jg komunitas ini patungan utk csr kegiatan sosial.

Nah, masalahnya adl Sayanya aja yg belum action. Banyak alasan. Semoga ad kesempatan berbisnis. Krn bisnis tak sekedar laba oriented.

jus pepaya istimewa :)



Belum lama saya bincang ringan dengan ibu saya gara2 melihat anak2 kecil sedang bermain.

"Kesian ya anak2 skrg, ga punya lapangan bermain, mana sukanya ngambil rambutan atau mangga sampe manjat2 tembok orang ga bilang2 yang punya. Orang tua nya ya juga pada males nanem. Singkong tinggal ditancep aja numbuh. Pepaya tinggal disebar bijinya jg tumbuh. Coba deh lihat, anak2 nya pada kurang gizi ga pernah makan buah.kalau beli memang mahal, kalau punya pohonnya sendiri kan gatis "

"Iya bu, di aceh pemerintahnya mewajibkan warga nya nanem 1rumah 1 pohon pepaya"

"Lah iya, harusnya pemerintah sini inisiatif dong, disepanjang jalan itu kan tanah kas desa. Ditanemin pohon buah apa kek, rambutan, mangga, srikaya, belimbing, jambu, jadi kan kalau anak2 mau, tinggal ambil. Biar dpt gizi ga harus nyolong2 tetangga."

"Siap.merdeka" :D

####

Hehe,ibu saya dulu aktivis aisyiah, jadi maklum aja, pemikiran dan gaya bicara nya suka berapi2 :)

Banyak pemikiran dan aksi ibu saya yang positif, suka saya amati, internalisasi dan ternyata betul menginspirasi. Sampai saya buat tulisan diblog tahun 2011 ttg gerakan 1 rumah 1pohon pepaya.

Dan alhamdullilah didkt jemuran rumah, ibu saya menabur biji pepaya yg sekarang sdh berbuah banyak tidak besar2 dan matang pohon, urut dari bawah hampir setiap 2hari sekali. Faza suka banget pepaya utk mpasi nya, biasanya 1buah kecil dimakan berdua sama ibu saya. Kalau saya lbh suka di jus, dan ditambah perasan jeruk nipis. Seger, manis, asem dikit...

Terima kasih ibu, terima kasih Allah, atas segala nikmat..

mie (ayam) jamur praktis

Mie jamur bukan mie ayam :D



Rasanya 11-12 sama mie ayam. Tapii lebih murah, 10rb bs jadi 4 mangkok hehehe

Memadukan makanan kesukaan suami, mie ayam dan jamur. Rencananya mie nya giling sendiri biar agak lbh sehat, tapiii cetakan pasta entah ngumpet dimana, jadi pakai mie siap masak. Ttp ada benzoat di mie, kecap, dan saos. Hehe

Mienya beli diwarung tinggal rebus
Sawi tinggal rebus, nyuci nya diair mengalir ya biar pestisida nya larut
Jamurnya,
Haluskan, bw merah,putih,jahe dikit, cabe rawit klo suka, tumis tambhain merica bubuk, gula, garem, daun salam, daun jeruk, lengkuas, masukin irisan daun bawang, jamur tiram yg ud dipotong2, tambahin air, kecap dan tunggu mateng

Tinggal tata ala tukang mie ayam deh

mie wortel jamur rasa mie ayam :D


Nah,ini dia mie wortel jamur rasa mie ayam hehehe
Karena cetakan pasta sy sdh ketemu akhirnya saya bisa bikin mie sendiri. Cukup terigu,tapioka, telur, sari wortel, dan sdkt garam. Jamurnya, ya cuma bumbu dasar dan kecap.
Anak saya, faza usia 8 bulan, minta mie nya utk mainan, ya saya kasih dengan tenang tanpa perlu khawatir jika dimakan... :D

Resep mienya
Sari wortel: Wortel 2 diblender sama 150ml air, peras, ambil airnya campur telur 1 aduk. (2500)
Terigu 250gr, tapioka 4sdm, gram 1sdt, aduk rata, masukan sari wortel dikit2 dan uleni sampai tdk lengket ditangan. (3000)
Tinggal giling,cetak, taburin tapioka biar ga lengket. Terus rebus campur sawi. (1000)
Bisa utk 6 porsi mangkok besar..
Kalo kebanyakan, taruh plastik, masukin freezer bisa tahan 1minggu. Atau td saya goreng rasanya kaya mie2 kemasan siap makan yg ada bumbunya dan biasa dibeli anak2. Hhe


Jamurnya,
Cuma bw merah putih jahe lengkuas ditumis, trus tambahin gulgar, lada bubuk, pala bubuk, daun bawang, jamur tiram, air, kecap (6000)

Tata deh ala mie ayam.. tambahin garam krn kuahnya dr air panas dispenser heheheh

Friday, 3 April 2015

Kisah 3 Pemuda yang Terjebak Dalam Goa



Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu 'anhuma, dia berkata: “aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:’ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus berminap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata:’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku).

Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .

Nabi bersabda lagi: ‘ yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya ; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata:’tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .

Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda lagi: ‘ kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab:’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata :’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)

Pelajaran-Pelajaran Yang Dapat Dipetik  
* Berbakti kepada kedua orangtua
Hadits diatas juga menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua (birr al-Wâlidain), patuh, melakukan kewajiban terhadap hak-hak keduanya dan mengabdikan diri serta menanggung segala kesulitan dan derita demi keduanya. Diantaranya hak-hak keduanya adalah:
Melakukan perintah keduanya selama bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, melayani, membantu dalam bentuk fisik dan materil, berbicara dengan ucapan yang lembut, tidak durhaka serta selalu berdoa untuk keduanya.
Memperbanyak doa untuk keduanya, bersedekah jariyah atas nama keduanya, melaksanakan wasiat, menyambung rahim serta memuliakan rekan-rekan keduanya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, [23]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: " Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".[24] (Q,.s. 17/al-Isra’: 23-24)

* Berbakti kepada kedua orangtua merupakan sebab terhindarnya dari kesulitan-kesulitan di dunia dan keselamatan dari ‘azab akhirat

Dalam kisah diatas, salah seorang dari mereka, bertawassul kepada Allah melalui perbuatannya yang dianggap paling afdlal dan ikhlas dilakukannya, yaitu berbakti kepada kedua orangtuanya sehingga hal menjadi sebab merenggang dan terbukanya rongga gua dari batu besar yang menutupnya.
Abu Darda’ radhiallaahu 'anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “orangtua merupakan pintu pertengahan di surga; jika kamu menginginkannya, maka jagalah ia atau bila (tidak) maka sia-siakanlah “.
Sebagaimana, berbakti kepada kedua orangtua juga merupakan sebab masuk surga, sementara durhaka kepada keduanya merupakan sebab mendapatkan ‘azab di dunia dan akhirat.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:”Ada tiga orang yang tidak dapat masuk surga: ‘seorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya; orang yang menyetujui terjadinya zina terhadap keluarganya serta wanita yang kelelakian (yang menyerupai laki-laki)”. * Mengambil pelajaran dan wejangan dari kisah-kisah umat terdahulu
Seorang Muslim patut mempelajari dan merenunginya sehingga dapat bermanfa’at bagi kehidupannya. Bukankah Allah Ta’ala telah mengisahkan banyak sekali kisah-kisah umat-umat terdahulu, terutama para utusan Allah, kepada kita?. Semua itu, tentunya agar generasi selanjutnya dapat memetik pelajaran dari mereka. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q,.s.12/Yûsuf: 111)

Thursday, 14 August 2014

“Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..”



“Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..” *

Syndrome mahasiswa akhir semester biasanya tidak jauh dari tiga hal; lulus, bekerja, dan menikah. Dan itu tidak terkecuali saya. Dan syndrome itu semakin menjadi-jadi saat satu per satu teman saya lulus, bekerja, dan menikah, sementara saya masih di kampus. Dan terus di kampus sampai akhirnya saya melanjukan jenjang S2 di fakultas dan universitas yang sama. Tidak jarang, banyak teman, saudara, dan bahkan keluarga bertanya “kapan saya menikah?”. Dan dengan wajah innocent, saya hanya bisa menjawab, “ya, insyaallah segera, mohon doanya ya”. Padahal, dalam waktu yang bersamaan hati saya menjawab, “mau nya sekarang juga nikah, tapi tidak tahu sama siapa, kapan, bla bla bla….”
Dua jawaban yang kontradiktif dimana lisan dan hati bertentangan satu sama lain. Padahal, Iman itu diimani dalam hati, diungkapkan dalam lisan, dan diamalkan dalam perbuatan. Dan ilmu berbanding lurus dengan iman, itu artinya iman saya masih goyah karena ilmu saya masih kurang. Bahkan terkadang saya bertanya penuh dengan keraguan mengapa Allah Ta’alla tidak segera mempertemukan saya dengan jodoh saya, bahkan menyalahkan beberapa orang mengapa tidak membantu saya mencarikan jodoh untuk saya.
Tahun-tahun yang cukup berat untuk saya lewati diantara deadline Tesis, pekerjaan sebagai asisten peneliti yang penuh tekanan, tuntutan untuk menikah, dan kabar-kabar pernikahan dan kelahiran dari teman-teman. Sementara saya belum tahu, kapan saya akan menikah dan tidak tahu dengan siapa saya akan menikah. Di saat-saat itu, ternyata Allah SWT malah memberikan saya tambahan pekerjaan untuk mengelola Sekolah Pranikah (SPN) yang hampir setiap sesinya saya menjadi moderator. Ya, alhamdullilah saya aktif di LSM Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) BENIH di Solo. Karena itu, setiap kali saya memoderatori SPN, setiap itulah saya semakin dilema dan semakin gelisah. Namun setiap itulah saya semakin berfikir dan semakin terbuka memandang tentang pernikahan, persiapannya, dan tantangannya setelah menikah.
Ilmu itu menenangkan, ilmu yang memberikan panduan pada kita mana yang benar mana yang salah, mana yang harus kita lakukan mana yang tidak boleh dilakukan, Ilmu yang fitrah untuk semua makhluk, ilmu yang mendekatkan pada keadilan menempatkan semuanya sesuai pada tempatnya, Ilmu yang mendekatkan hamba dengan Tuhan-nya, Ilmu yang menambah keimanan, Ilmu yang memberikan kemanfaatan, Ilmu yang memberikan kekuatan untuk bersabar, Ilmu yang memudahkan menangkap sebuah hikmah dari setiap kejadian,  Ilmu yang menambah kebijaksanaan sebuah kepribadian.
Satu hal yang membuat saya berkontemplasi hebat adalah saat salah satu pembicara SPN memaparkan salah satu ayat dalam al-qur’an, ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah (tentram) kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)
Barulah saya memahami bahwa Allah akan memberikan kado pernikahan berupa sakinah ma waddah wa rohmah kepada kedua mempelai yang sudah melakukan ijab qabul. Berarti rasa cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya baru akan ada setelah pernikahan itu terlaksana. Dan itu akan terjadi ketika proses sebelum menikah, saat menikah (walimat ursy), dan setelah menikah dilakukan dengan cara yang Allah ridhoi. Dan yang lebih harus dipastikan adalah bagaimana meluruskan niat bahwa pernikahan itu adalah ibadah, hanya kepada Allah SWT..Insyaallah.
Dari situ saya meyakini bahwa pernikahan adalah sebuah mitsaqon ghalizan, sebuah perjanjian yang berat. Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah, termasuk didalamnya dalam pemilihan calon dan proses menuju jenjang pernikahan . Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Kalau kata Anis Matta,“Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu kalau hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasulullah saw, “jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah”
Maka, semenjak itulah saya betul-betul mencintai Allah SWT, menyerahkan semua perkara pada-Nya, ikhlas pada takdirnya, dan pasrah pada apapun keputusannya. Saya hanya berusaha melibatkan Allah dalam setiap keputusan, sehingga apapun yang terjadi, biarlah itu menjadi keputusan Allah..Bukankah hanya Allah yang tahu apa yang terbaik utk hamba-Nya?
Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari )
Dan janji Allah tidak lah pernah salah. Saat saya berada pada titik pasrah dan ikhlas, pada titik itulah saya merasakan ketenangan yang amat sangat. Dan pada saat itulah Allah memberikan jawaban dan jalan yang mudah sehingga saya bertemu dengan jodoh saya. Proses nya tidak selancar jalan tol, juga tidak semacet jalan raya jakarta pagi dan sore hari. Ada kendala tapi insyaallah selalu ada solusi nya. Mungkin ini yg dimaksud dengan jodoh :) 
Proses pernikahan saya berkisar dua bulan, dimulai sejak 23 ramadhan 1434 H, langsung khitbah pada 3 syawal 1434 H dan tanggal pernikahan disepakati tanggal 6 dzulhijah 1434 H. Beberapa minggu setelah menikah suami saya wisuda pascasarjana di UGM Jogjakarta, 1 bulan kemudian alhamdullilah saya positif hamil. Usia 6 bulan kehamilan, saya menyusul ujian tesis dan wisuda 1 bulan setelahnya di UNS Surakarta. Dan saat saya menuliskan ini, mendekati 3 hari menuju hari perkiraan hari lahir putri pertama kami. Alhamdullilah, bersyukur atas segala nikmat yg Allah berikan.
Mengutip seperti apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, sebait ini saya dedikasikan untuk suami saya, “aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga..."
Dan saya selalu bersyukur Allah SWT memberi saya jalan menuju takdir cinta seperti ini. Maka Sering pula saya menyampaikan ke adik2 tingkat yang sedang menanti jodohnya "do the best what you can do now, karena percayalah apa yang kamu lakukan sekarang, sesungguhnya juga sedang ia lakukan sekarang. entah siapapun ia, entah dimanapun ia. Jadi berfokuslah pada apa yang kamu lakukan bukan pada-siapanya. karena ia yang milikmu adalah ia yang akan datang saat kamu sedang berada dikondisi yang terbaik"
 Perjalanan panjang itu membuat saya menyimpulkan bahwa “Karena setiap kita punya jalan takdir yang berbeda..”  dan semoga saat kita mencapai takdir itu, saat itulah kita berada pada titik keimanan tertinggi.


Solo, 18 Syawal 1435 H


*Nunik Nurhayati, M.H, istri dari Rohmad Suryadi, M.A. Dapat ditemui di fb: nun1q@yahoo.com atau blog: www.thecolourfulmemories.blogspot.com


Monday, 12 May 2014

yg ada di halaman Tesis

Motto

“Dan Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang (ilmu) agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
(Q.S At Taubah: 122)

“Pahamilah, jika kita mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakikat ilmu (akhirat), niscaya kita akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan seseorang (ulama) menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu, tapi mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT”
(Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin)

Karena “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS : Mujadalah:11)

Dan “Barang siapa yang berjalan pada suatu jalan untuk mencari limu, maka Allah memberinya jalan menuju surga” (H.R Muslim)

"...Maka bersabarlah, sungguh kemudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa" (Q.S Hud: 49)

 
 
Tesis ini saya persembahkan kepada:
Allah SWT, tujuan dari segala tujuan
Semoga segala ilmu bermanfaat untuk kemaslahatan ummat
Demi tercapainya Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di muka bumi ini, InsyaAllah.