Friday, 31 May 2013

plan is plan

yang saya yakini, hanya Allah SWT yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan jika kita memiliki rencana yang kita yakini juga baik, kenapa tidak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh? Semoga saja apa yang kita rencanakan sama seperti apa yang Allah rencanakan. Karena kita tidak akan pernah tahu akan hal itu. Yang kita hanya perlu tahu adalah bagaimana mengikhtiarkan itu dengan sebaik-baiknya dan dengan doa-doa terbaik, kemudian bertawakkal..
Ya, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya, dan jangan pernah sampai berputus asa dari rahmat Allah Sang Maha segala Maha,walaupun hanya sedetik. Insyaallah.

"Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu)." (HR.Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud)


~semoga yang terbaik untuk mu, untuk ku, untuk kita, dan untuk semua~

Wednesday, 29 May 2013

manis :)


hidup manis itu adalah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, terus lanjut menyelesaikan 'sesuatu' didepan laptop dan ternyata haus, eh ada anak manis tiba2 muncul, dan pas dimintai tolong ambil air minum, langsung beranjak dan memberikan segelas air minum dengan senyum manis nya
terharu :')

Menikmati manisnya proses, seringnya hanya fokus pada hasil akhir dan menganggap bahwa keberhasilan adalah saat suatu akhir yang diharapkan berhasil sesuai yang direncanakan.. Padahal, ternyata lebih banyak hal manis yang didapatkan saat menyadari bahwa proses itu harus dinikmati entah membahagiakan ataupun tidak.

Seperti membesarkan seorang anak, (bisa jadi) kadang orang tua hanya fokus bagaimana anak-anak nya sukses saat dewasa, mandiri, dan berhasil dengan cita-citanya. Tapi lupa menikmati saat anak-anak tumbuh karena sejatinya mereka lebih sering melakukan hal-hal yang manis yang menyejukkan namun tertutupi pada kenakalan yang sebenarnya mereka tidak nakal, tapi lupa diberitahu oleh orang tuanya atau orang tuanya yang kurang sabar memberitahukan anaknya atau mungkin tertutupi oleh sedikitnya waktu orang tua membersamai anak-anaknya sehingga tidak pernah tahu bahwa sebenarnya anak-anaknya itu manis.

#sebuah proses, apapun proses itu pahamilah bahwa proses itu manis walaupun tidak selalu. tapi semoga berakhir manis.

Saturday, 18 May 2013

Kenapa?

Perjalanan tadi sore melintasi desa membuat saya tertegun dengan kata 'kenapa'. Sepanjang perjalanan di motor menuju rumah budhe ke desa sebrang, Hani, keponakan saya (12 th) berulang kali bertanya menggunakan kata 'kenapa'. 
Mba, kenapa anak laki-laki main layangan? // ya, karena cuacanya sedang bagus han..anak perempuan juga boleh main layangan..
kenapa banyak anak-anak yang main layangan, di sini, di sana? // Ya, karena kebetulan cuacanya sedang sama-sama bagus..kalo musim hujan pasti ga ada yang main layangan..
Kenapa harus main layangan? // ya, sebenernya ga harus main layangan aja han, tapi bisa main yang lain juga.. tapi karena cuacanya cerah dan banyak angin jadi seru nya main layangan..
Kenapa suka main layangan? // *mikirr..hmm ya karena mereka suka main layangan. (dan sebenernya bingung mau jawab apa lagi..haha)

tak lama, pertanyaan berubah isu karena melihat baliho pemilukada jateng.
Mba, HP-Don itu apa? // o..itu calon gubernur jawa tengah dan wakilnya. nomor urutnya 1, diusung dari PKS, PKB, PPP, Hanura, gerindra, sama PKNU (hafal, soalnya sambil ngelirik spanduk2 kecil sepanjang jalan..hehe).
Kenapa banyak banget partainya?// karena banyak partai yang mendukung..
Kenapa mendukung? // *mikir berat..hmm ya karena mungkin calon ny baik ya jadi banyak yang dukung
Terus nomor 2 itu siapa? // nomor 2 itu pak bibit, gubernur yg sekarang mencalonkan lagi..
Di dukung partai apa? // lupa, kayanya kalo ga Golkar atau Demokrat
Kenapa cuma 2 yang dukung? // hmm...hffttt...ya karena cuma didukung partai itu aja..
terus yang ke 3?// pak ganjar, dari PDIP..
Kenapa banyak banget ya di jalan2 itu spanduknya? // *hmm..hmm..karena biar masyarakatnya bisa tau han.. (pengen jelasin tentang audit dana kampanye tapi kayanya ga memungkinkan..hehe)

dan alhamdullilah sampai juga di lokasi, jadi pertanyaan selesai secara otomatis :D

Hani, usia 12 tahun, masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.. tidak lagi bisa jika hanya diberitahukan atau disuruh tanpa ada penjelasan. bahkan terkadang harus dengan feed back sampai dia paham kenapa harus melakukan suatu hal. Dan terkadang ia sudah mulai punya pendapatnya sendiri, seperti tadi misalnya..

Han, banyak bendera warna merah ya di jalan-jalan..aku mau pasang bendera warna putih ah di depan rumah..// menurut ku kayanya jangan deh mba..
memang kenapa? // ya jangan aja..ga enak aja kan sama orang lain
masa sih, tapi kenapa harus ga enak? kan gpp namanya juga berkompetisi tidak harus saling menjatuhkan..// iya sih..tapi menurutku jangan aja..ga enak aja..ga enak kenapa yaa..iihhh masa mba ga tau sih???
hmm..gitu ya han, tapi kalo aku mau pasang gimana? gpp juga kok kalo sebelah rumah masang bendera warna biru, sebelahnya lagi warna merah..atau mungkin sebelah yang lain jadi ikut pasang bendera putih kan..// hmm iya sih..terserah mb aja deh..pasang juga gapapa..

Pertanyaan-pertanyaan yang sering membuat saya tertegun. bukan hanya karena saya sudah mulai 'kewalahan' menjawab pertanyaan-pertanyaannya.. tapi, karena saya berfikir tentang suatu hal. Di sisa perjalanan, dalam hati saya, saya mengatakan pada hani suatu hal, bahwa hidup sangat dinamis. terlalu dinamis. sampai suatu masa, saat ia dewasa, ia tak lagi bisa menemukan jawaban-jawaban secara langsung dari pertanyaan2nya tentang 'kenapa'. Ya, karena ia mungkin baru bisa mendapat jawaban itu setelah beberapa bulan menunggu jawaban atau mungkin ia tidak akan pernah mendapat jawaban nya sama sekali sampai ia sendiri yang berusaha mencari jawabannya.. Dan semoga saat itu terjadi keimanan nya sudah terpatri kuat di hatinya sehingga jawaban-jawaban tentang 'kenapa' bisa ia jawab sendiri dengan kebijaksanaan dari dirinya yang luar biasa karena kedekatannya pada sang Illahi rabbi. Sehingga, hanya untaian-untaian hikmah yang ia dapat sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang 'kenapa'. dan semoga itulah yang akan semakin meningkatkan keimanan pada Tuhan-nya dan kecintaanya pada Islam. 

*sedang menikmati senja dengan secangkir coklat hangat diantara lagu2 pop yang nadanya berubah jadi dangdut dari sound system tetangga sebelah yang akan sibuk dengan hajat besarnya esok hari.. Eh, kenapa laguny tiba2 berhenti dan jadi ada sambutan2 bapak2..hmm..ibu saya bilang itu acara midodareni *kalo ga salah ketik :) karena saya baru tau ada serangkaian acara yang sangat banyak dan cukup kompleks untuk menikah, semenjak saya tinggal di kota ini.. kenapa seribet itu ya? kenapa?? hmm..iya, kenapa ya?? hehe.. 

Dinamisasi hidup.
cuma ada di dunia :D
termasuk tesis yang harus tetep dinamis move on - nya diantara keroncong, dangdut, campur sari, dan terkadang sambutan2 bapak2 yang saya tidak mengerti satu kata pun. haha. eh,tapi lagu pop yang berubah nadanya jadi dangdut itu liriknya seperti mengungkapkan realita kehidupan yaa.. hanya mencintai seni # pengalihan isu ding # melarikan diri dari kenyataan mungkin yaaa # :D

Saturday, 20 April 2013

packaging

suatu hari modem saya hilang, dan saya pun membeli yang baru di tempat yang sama, dengan harga yang sama, provider yang sama, tapi beda merek pada mesin modemnya. Saat saya pulang ke rumah, saya langsung diserbu keponakan saya, Hani (12 tahun), "yee mba nunik pulang, jadi beli modem baru ya, warnanya apa mba?" // "putih.." // "asik2..putih..bagus, gak hitam kaya kemrin".

setelah dia pakai, dia cukup kecewa karena speed nya tidak sekencang yang modem kemarin, saya juga bingung dan agak kangen juga sama modem yang lama..hehe.. tapi sih kayanya karena biasanya saya reload yang IDR 100rb/bln tapi yang sekarang saya reload IDR 60rb/bln :) dan tiba2 hani bilang, "padahal warnanya putih ya..bagus tapi kok lemot banget ya ga kaya yang hitam kemarin, iya sih warna hitam ga begitu bagus tapi lebih cepet..kayanya jangan liat dari luarnya aja deh" // saya pun cuma senyum2 sendiri, iyalah IDR perbulannya beda  :D

Packaging. Seringnya anak-anak saat memlilih suatu barang atau makanan, mereka melihat dari luar, warnannya, bentuknya.. misalnya saja tas, yang penting warnanya pink, entah merk nya apa,apalagi tau kualitasnya. mahal ataupun murah mereka tidak begitu peduli karena yang terpenting adalah dibelikan :D atau makanan, yang penting cupcakes itu bentuknya lucu, krimnya banyak, warna-warni, ga peduli apakah gulanya alami, pewarnanya food grade, brp jumlah kalori dalam 1 kue, apalagi halal atau haram, mereka ga mengerti karena yang mereka tau kuenya terlihat bagus dan rasanya kemungkinan enak.

Anak-anak. belum banyak hal didunia ini yang mereka tau. Mungkin disitulah tugas orang tua untuk memberitahukan mereka yang mana yang benar dan mana yang salah. dan setelah itu melatih mereka untuk terbiasa berani memilih yang benar dan jangan pernah takut untuk tidak melakukan atau memilih yang salah walaupun disekitarnya banyak orang yg melakukan kesalahan itu dan seolah-olah tidak salah. Ini jangka panjang.. urusan kualitas suatu negara, dari kualitas generasinya kan?

Saya jadi teringat, bahwa anak usia 0-7 tahun diusahakan jangan ada diskusi untuk masalah prinsip. karena yang merka butuhkan adalah input, mereka butuh diberitahukan bahwa ini benar, ini salah, ini yang harus dilakukan dan ini yang tidak boleh dilakukan. Misalnya mereka butuh diberitahu bahwa sholat itu wajib, makan itu harus duduk, tidak boleh membuka aurat di depan orang, dll. Tentunya dengan menyesuaikan psikis dan kondisi anak dibawah usia 7 tahun, tidak boleh memaksakan apalagi memukul. Barulah  setelah 7-14 tahun, dipersilahkan dibuka ruang-ruang diskusi untuk membiasakan anak meyakini suatu kebenaran karena ada alasan kebaikan sehingga pemahaman nay tentang benar atau salah karena betul-betul paham bukan hanya sekedar kebiasaan. Misalnya saja kenapa harus menutup aurat, kenapa tidak boleh mengambil barang orang lain tanpa seizinnya, dll..tentu saja dengan komunikasi 2 arah yang efektif, dgn  bahasa-bahasa yang mudah dimengerti anak usia dibawah 14 tahun dan tidak menggurui. Usia 14-21 tahun, mulai mendengarkan pendapat mereka tentang suattu hal tentunya masih harus diawasi dan dipastikan bahwa pendapat mereka atau pilihan mereka benar. Dan usia 21 tahun keatas, idealnya mereka sudah lulus universitas, banyak hal yang mereka sudah pelajar dari lingkungan, dengan ilmu yang mereka dapatkan dan dengan bekal prinsip dari orang tuanya sejak kecil, tentulah bisa jadi, anak mulai dimintakan pendapat-pendapatnya nya tentang beberapa hal, dan pastinya orang tua tenang, bahwa mereka telah berhasil memberikan solusi untuk bangsa ini, 1 generasi terbaik yang bisa memberikan solusi untuk perbaikan bangsa ini karena kekuatan iman mereka, ilmu mereka, moral mereka, dan akhlaq terbaik mereka. Dan pastinya mereka juga akan menjadi menantu-menantu idaman yang akan menjadi istri/suami dan tentunya menjadi orang tua-orang tua terbaik untuk anak-anak mereka kelak :D

Well,pembahasan yang terlalu jauh dan ga begitu nyambung, balik ke packaging. hehe

Pilihan dan sikap kita terhadap apapun memperlihatkan kualitas kita. dan memperlihatkan kualitas lingkungan yang mendidik kita. Misalnya apakah kita masih memilih kue yang bentuk dan warnanya bagus padahal kita tau itu tidak halal sementara ada pilihan kue biasa tapi halal dan thoyib? atau apakah kita akan mengambil uang yang ditemukan dijalan atau mengembalikan itu ke kotak infaq, dll...

Terus, jika kita kembali ke masyarakat sekarang dan melihat lingkungan sekitar, ga usah jauh-jauh deh, coba kita liat kita sendiri, usia berapakah kita sekarang? hehehe, sudahkah kita melihat atau memilih sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja? dan sudah kah kita berani memilih sesuatu yang benar saat dimana orang lain mugkin tidak memilih itu atau sudahkah kita berani mengatakan kita salah saat kita menyadari bahwa kita salah walaupun banyak orang lain tanpa rasa bersalah melakukan kesalahn itu..
Bukan salah orang tua mendidik, dan tak ada yang salah karena yang terpenting berusaha benar, kembali kepada kebenaran, kembali pada Al-qur'an dan As-Sunnah :D

Kalo kata Sherina, lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa melihat, lebih bijaksana..
kalo versi saya sih, lihat Al-qur'an lebih dekat, dan kita bisa melihat dan memilih kehidupan ini, dengan bijaksana, karena benar..

Kita: berjalan, bersama..



Kita, menuju tujuan akhir yang sama, melewati jalan yang sama, bersama-sama..
Jalanan nya nyaman, udaranya sejuk, dikiri dan kanan jalan pemandangannya indah,
Kita menikmatinya, perjalanan yang menyenangkan dan membahagiakan, penuh cerita, penuh canda tawa.
Tapi sepertinya aku menyadari, tidak seharusnya kita melewati jalan ini
Kita tersesat, jalan kita salah..

Aku bertanya “apakah kita melewati jalan yang salah”?
Sepertinya aku mengetahui jalan yang seharusnya kita lewati,
Lewat sana, tapi penuh bebatuan, di kiri dan kanan jalan jurang, terjal.
Tidak nyaman, membutuhkan energi yang lebih, extra hati-hati, harus dengan strategi, dan kita harus saling membantu, melindungi, dan saling mengingatkan untuk sabar dan jangan pernah berputus asa dr rahmat Allah, agar tak terpeleset, dan terjatuh..
Nanti mana bisa kita sampai di tujuan akhir itu bersama-sama seperti yang kita harapkan?

Tapi lihatlah lebih seksama, jalan terjal yang harus kita lewati tak begitu panjang,
Hanya jarak dekat.
Dan lihatlah..jalanan setelah jalan terjal itu adalah jalanan yang lebih indah dari jalan yang kita lewati sekarang.
Lebih sejuk, lebih banyak pepohonan dengan bunga warna warni, harum mewangi, banyak kupu-kupu cantik berterbangan, suara burung bersiulan merdu..
dan lihatlah lebih seksama lagi, ya disana. Persis setelah jalanan yang indah itu. Ya, disana. Disanalah tujuan akhir kita.

Tapi.. aku meminta pada mu.
Walaupun sebelum kita mencapai tujuan akhir itu, jalan yang kita lewati indah,
Kita harus tetap bersama-sama.
Tidak hanya untuk menikmati pemandangan yang indah di jalan itu,
Tapi untuk saling mengingatkan, agar jangan lupa bersyukur pada sang Maha Pencipta,
Agar jangan lalai keimanan kita dengan segala kenikmatan yang ada.

Kita.
Tujuan akhir kita yang sama, jalan yang harus kita lewati pun sama, tak selamanya indah.
Apapun jalan itu, kita harus bersama, saling berbagi dalam suka dan duka, saling menguatkan dalam keimanan, saling mengingatkan dalam kesabaran, saling membantu dalam kesulitan.
Yang penting kita yakin bahwa jalan yang akan kita lewati adalah jalan yang benar.
Dan tidak sekedar yakin, tapi kita bersama-sama, berjalan, menyusuri jalan itu, sampai ke tujuan akhir yang kita harapkan.

Kita.
Ya, Kita.
Bukan Aku, Bukan Kamu.
Tapi kita.
Itupun jika Kita (aku dan kamu) memiliki tujuan akhir yang sama, sama-sama tahu dan sama-sama memilih mana jalan yang benar yang harus kita lewati, untuk mencapai tujuan akhir itu bersama.

Dan

Tujuan akhir itu adalah Surga.
Jalan yang benar itu Islam, Qur'an dan Sunnah.
Bersama itu adalah saat ridho Allah membersamai.

:: Karena Surga terlalu mahal untuk diperjuangkan secara sederhana dan terlalu berat untuk dituju sendirian ::